Minggu, 06 Juni 2010

Buto Ijo Makan Rembulan

Terang bulan adalah saat-saat yang ditunggu oleh Rangga dan teman-temannya untuk bermain-main di lapangan yang luas. Sinar rembulan yang terang membuat mereka merasa sayang kalau harus melewatkannya di rumah saja, karena di jalanan malam jadi terang seterang siang.

Dahulu, di desa tidak ada listrik. Maka, kala tidak terang bulan keadaan akan menjadi gelap gulita. Rumah mereka hanya diterangi lampu minyak yang tidak begitu terang. Sehabis sholat isya’, mereka langsung masuk ke dalam rumah masing-masing untuk melepas lelah sambil bercengkrama dengan orangtua hingga mereka semua tertidur. Tetapi malam ini, bulan nampak bundar dengan cahaya keemasan. Tubuh-tubuh mereka disepuh sinar keemasan hingga masing-masing begitu gembira dan berteriak-teriak kegirangan.

Anak-anak bermain dengan suka cita, sementara para orangtua hanya duduk menonton anak-anak yang sedang bergembira itu sambil sesekali melempar senyum melihat tingkah laku mereka yang polos.

Amboi indahnya rembulan! Sinarmu berkah bagi kami! Tetapi, kami lebih kagum pada yang menciptakanmu!
Rangga termasuk anak yang paling bahagia malam itu. Karena, sejak kemarin, ia bersedih sebab hampir sebulan ia merindukan untuk bisa bermain bersama anak-anak yang lain. Maka, begitu tahu kalau malam ini terang bulan, semenjak adzan maghrib dan sehabis mengaji serta sholat isya’, ia sudah berkumpul bersama teman-temannya.
Rangga larut dalam kegembiraan itu. Ia meloncat-loncat, berlari-lari, dan tertawa bersama teman-temannya. Anak yang berusia sekitar sepuluh tahun dan bertubuh hitam itu kulitnya berubah menjadi kuning kecoklatan karena tersiram cahaya rembulan. Rambutnya yang kaku, hidungnya yang sedikit pesek tetapi lincah bergerak ini, kelihatan jelas di bawah sinar rembulan.

Tiba-tiba…..entah kenapa, keadaan menjadi gelap. Bulan yang tadinya memancarkan sinar terang itu perlahan-lahan permukaannya menjadi gelap….gelap…..dan akhirnya sinarnya benar-benar menghilang. Sontak saja anak-anak yang sedang bermain berlarian menyelamatkan diri di belakang punggung orangtuanya masing-masing.

Keadaan yang gelap gulita membuat burung-burung hantu mencicit keras, suara riuh rendah anak-anak yang menangis karena takut membuat suasana menjadi semakin tegang. Dari arah pojok perkampungannya, sebuah suara kentongan ditabuh bertalu-talu, mereka meneriakkan sesuatu yang baru pertama kali diketahui oleh Rangga dan teman-temannya.

“Buto ijo…….Buto Ijo menelan rembulan…….! Sembunyi…sembunyi…di bawah kolong tempat tidur……!” Seseorang yang memukul kentongan tanda bahaya ini memberi isyarat pada siapa pun yang masih berada di lapangan untuk kembali ke rumah dan sembunyi di bawah kolong tempat tidur.

Rangga ketakutan sekali. Ia berlari kencang kemudian dengan gerakan lincahnya tahu-tahu ia sudah berada di bawah meja. Tiarap seperti tentara. Masih dengan nafasnya yang terburu-buru, ia menutup matanya dengan dua tangannya. Ia ngeri kalau membayangkan Buto Ijo itu akan masuk ke rumahnya dan kemudian Buto Ijo yang bertubuh sebesar raksasa, kulitnya berwarna hijau, dan bermata besar akan menelan dirinya mentah-mentah.

Kata ibu, Buto Ijo akan menelan anak-anak yang nakal dan tidak patuh pada orangtuanya. Ia akan datang dengan terlebih dahulu menelan rembulan bulat-bulat, kemudian mencari anak-anak yang nakal.

Lalu Rangga teringat, kalau kemarin ia telah mengambil uang ibunya tanpa permisi. Uang yang diselipkan di bawah taplak meja dapur itu, ia ambil untuk membeli es dan mentraktir teman-temannya. Ia tahu, ibunya kebingungan, ketika Rangga ditanya ia tidak juga mengaku.

Ibu waktu itu hanya berkata, “Ibu nggak akan menuduhmu berbohong, tetapi kalau kau memang tidak mau mengaku, tunggu saatnya kau akan dimakan Buto Ijo!”

Maka, saat ini, Rangga merasa bersalah dan takut sekali kalau apa yang dikatakan ibunya benar: Buto Ijo akan mencari anak-anak yang nakal dan tidak patuh pada orangtuanya untuk dimakannya jadi lauk.
“Ampun Buto Ijo dagingku pahit……! Aku juga masih kecil, kalau kau makan juga tidak akan mengenyangkanmu……”

“Ada apa kok kamu berkata seperti itu?” Tanya ibu bijaksana.
“Ampun Bu…..aku nggak mau dimakan Buto Ijo, aku mengaku bersalah……”
“Salah apa?” Ibu Rangga nampak mengernyitkan dahinya.

“Aku telah mencuri uang ibu…….aku takut, nanti kalau ketahuan Buto Ijo aku akan dimakannya…..”
“Oh….Itulah upah anak yang suka berbohong. Kalau kau bohong lagi, biar Buto Ijo benar-benar akan mendatangimu!”

putri yang menjadi ular

Di tepi sebuah hutan kecil yang hijau, sebuah danau yang berair jernih berkilau disapa mentari pagi. Permukaannya yang tenang beriak kala sepasang kaki yang indah menyibaknya. Sang pemiliknya adalah seorang putri yang sedang duduk di atas batu besar yang menyembul dari dasar danau. Aduhai alangkah cantiknya ia. Bahkan burung-burung pun terpesona memandangnya. Ialah Putri dari kerajaan di sebuah negeri di wilayah Simalungun yang terkenal amat rupawan. Ialah dambaan dari Puluhan Pangeran dan Putra bangsawan. Dan kini seorang Pangeran dari negeri seberang telah datang untuk meminangnya.

Sepasang ikan meloncat di dekat kakinya membuyarkan lamunannya.
“Ah alangkah bahagianya kedua ikan ini. Mereka pastilah sepasang kekasih yang saling mencintai. Sebentar lagi akupun akan sebahagia mereka,” pikir Putri sambil tersenyum kecil.

Beberapa Dayang yang menemani sang Putri, duduk-duduk di tepi danau memperhatikan tingkah sang Putri yang sebentar-bentar tersipu dan tersenyum malu.
“Lihatlah Tuan Putri kita. Oh ia pasti sedang melamunkan rencana pernikahannya dengan Pangeran dari kerajaan tetangga yang katanya sangat tampan. Setelah puluhan Pangeran yang datang, akhirnya Baginda memutuskan menerima lamaran yang satu ini,” kata salah satu Dayang.
“Kenapa? Apa istimewanya Pangeran itu?” tanya Dayang lainnya.
“Entahlah. Bagaimana aku bisa tahu,” kata Dayang pertama.
“Ayolah! Ceritakan apa yang kau ketahui,” desak Dayang lain.
“Aku juga tidak tahu banyak, “ jawab Dayang pertama yang rupanya Dayang kepercayaan Putri. “Tadi pagi Baginda memanggil Putri menghadap. Katanya utusan Pangeran dari kerajaan tetangga datang untuk melamarnya. Kerajaannya sangat besar dan kuat. Sehingga menurut Baginda, jika lamaran itu ia terima, otomatis akan menyatukan kekuatan kedua negeri.”
“Apakah Tuan Putri langsung menerimanya?” tanya Dayang kedua.
“Ya tentu saja. Putri adalah anak yang berbakti. Ia tahu perkawinan ini akan membawa kebaikan untuk seluruh negeri,” jawab Dayang pertama.
“Kalau begitu, sebentar lagi akan ada pesta besar donk! Asyiiiiik.,” seru Dayang-dayang.
“Ah, masih lama. Masih dua bulan lagi. Pestanya memang akan besar-besaran, makanya butuh waktu lama untuk mempersiapkannya,” kata Dayang pertama.
“Ya Tuhan. Semoga Tuan Putri selalu bahagia,” doa semua Dayang.
“Tugas kita sekarang adalah menjaga Tuan Putri supaya tidak ada sesuatu yang akan membatalkan pernikahannya,” kata Dayang pertama disambut anggukan Dayang lainnya.

“Bibi Dayang…!” seru Putri.
Para Dayang segera berlarian menuju Tuan mereka. Mereka membantu Putri membersihkan badan hingga kulitnya semakin tampak menawan. Kemudian mereka mencuci rambutnya yang panjang dan hitam sehingga harum semerbak. Kemudian para Dayang membiarkan Tuan mereka berendam menikmati kesejukan air danau. Memang begitulah kebiasaan Putri, ia tidak pernah cepat-cepat keluar dari air setelah selesai membersihkan badan.

Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang menggoyangkan semua pepohonan di pinggir danau. Sebatang ranting yang lumayan besar, patah dan jatuh menimpa wajah Putri tanpa sempat menghindarinya.
“Aaaa…..!” Putri menjerit kesakitan.
Dayang-dayang segera berlarian membantu Putri keluar dari danau. Dari sela jari-jari Putri yang masih menutupi mukanya, mengalir darah segar. Dengan panik mereka berusaha menghentikannya. Tapi alangkah terkejutnya mereka ketika menyadari ternyata hidung Putri telah hilang sebelah.

“Cepat ambilkan aku cermin!” perintah Putri.
Dengan ketakutan, mereka segera menyerahkan sebuah cermin.
“Tidaakkk…!” tangis Putri pilu. “Oh Tuhan. Mukaku cacat. Bagaimana aku bisa menikah dengan Pangeran jika mukaku sejelek ini. Ia pasti tidak mau melihatku.”

Putri menangis meratapi nasibnya yang malang. Ia begitu ketakutan membayangkan kemarahan Pangeran jika ia tahu mempelainya tak secantik yang ia bayangkan. Mungkin negerinya akan diserang, karena dianggap telah berbohong. Atau hal-hal buruk lainnya. Ia tak kuasa membayangkan kesedihan ayah dan bundanya.
“Tuhan, lebih baik kau hukumlah aku. Hilangkanlah aku dari dunia ini. Aku tidak sanggup bertemu kedua orang tuaku lagi, “ ratap Putri.
Petir menyambar diiringi guntur yang menggelegar begitu Putri mengucapkan doanya. Semua yang ada di situ menjerit ketakutan. Mereka semakin ketakutan ketika melihat badan Putri secara perlahan mulai ditumbuhi sisik seperti ular. Dayang pertama segera berlari ke istana untuk memberitahu Raja dan Ratu.
“Apa? Putriku berubah menjadi ular? Bagaimana bisa?” seru Ratu sambil terisak.
“Ayolah kita segera pergi melihatnya. Mungkin kita masih bisa menolongnya,” kata Raja sambil menarik tangan istrinya. Tabib istana pun tanpa disuruh ikut berlari di belakang Raja.

Sesampainya di danau, Putri sudah tidak tampak lagi. Tinggal para dayang yang masih menangis keras mengerumuni seekor ular besar yang bergelung di atas batu besar.
“Putriku…?” seru Ratu shock.
Ular besar itu menoleh dan menjulurkan lidahnya. Dari kedua matanya mengalir air mata. Pandangannya begitu memilukan seolah-olah hendak mengucapkan maaf dan selamat tinggal.
“Putri. Apa yang terjadi nak?” tangis Raja dan Ratu.
“Cepat tolong dia tabib!” seru Raja.
Namun Ular besar itu menggelengkan kepalanya dan segera meninggalkan mereka menuju hutan. Betapapun kerasnya Raja dan Ratu memanggilnya, Putri yang malang itu tetap menghilang ditelan hutan.

Sejak itu Putri tidak pernah kembali.

************

PESAN MORAL

Hal ini menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu mengucapkan doa yang baik dan selalu berpikir tenang. Karena bagaimana seandainya kita terlanjur mengucapkan doa yang buruk dan kemudian dikabulkan? Mengerikan bukan?

Sumber :
http://www.freewebs.com/dongengperi/Tales/Dong%20Bocah/putriular.html