Jumat, 11 Juni 2010

5 tips cinta dalam merayu cewek

Tips cinta itu jauh lebih sulit dibanding SEO ataupun design. Cinta itu adalah buta sehingga harus meraba-raba. Cinta adalah kata terindah yang pernah diucapkan. Dan cinta jualah yang menjadi awal sebuah peperangan.
Tidak setiap cowok didunia dapat mendapatkan cinta dari si cewek. Karena ceweklah yang paling utama menentukan apakah anda pantas menjadi cowok idaman atau tidak.
Beberapa hal yang membuat anda (cowok) gagal mendapatkan si dia versi Blog ini sebenarnya curhat dan pengalaman pribadi sih :
1. Sifat kekanak-kanakan
Nggak ada cewek yang suka melihat anda kekanak-kanakan. suka ngambek, suka ribut, suka cari masalah, tergantung orang lain, dsb.
2. Ngebadut
Banyak teman-teman saya yang berprofesi sebagai playboy :) . Mensarankan untuk tidak ngebadut di depan cewek. Pertama aku juga bingung. Maksudnya apa ngebadut. Apa jadi badut betulan? tampang saya emang nggak cakep-cakep amat sih bahkan cenderung jelek, tapi kalau mirip badut…nggak deh
Ternyata..ngebadut yang dimaksud ini adalah bercanda untuk menghibur si cewek. Merelakan diri untuk menjadi obyek lelucon. Melakukan hal-hal konyol untuk membuat si dia happy.
Anda disini tidak saling bercanda dengan si cewek melainkan anda menjadi bahan lelucon supaya si cewek bahagia. Jika anda tetap seperti itu anda hanya dianggap boneka mainan oleh si cewek. Dianggap Pacar atau suami…jangan berharap.
3. Khawatir Tampang
Banyak orang menganggap bahwa mempunyai tampang ganteng akan mudah meraih pacar. Memang IYA. Namun tidak untuk menjadi suami. Menurut penelitan sumber yang mungkin terpercaya bahwa wanita lebih memilih Pria yang dewasa.
Tampang no sekian. Asal punya tampang nggak jelek-jelek amat.
4. Tidak Menjadi pemimpin
Jika anda benar-benar lelaki sejati. Anda harus menunjukkan bahwa anda memang seorang pria yang akan menjadi pemimpin. Hal ini sudah terjadi selama ribuan tahun…dan jangan diubah.
Gampang nya! Saat anda ingin menelepon si dia..Anda yang harus pertama nelpon dan ngomong ke dia. Kemuadian anda yang menentukan topik pembicaraan. Jika ingin pergi ke bioskop anda yang menentukan film apa yang ingin ditonton. Jika ingin pergi ke tempat wisata anda juga berkewajiban dalam menetapkan tempat wisata yang akan dituju.
5. Memanjakan cewek
Kesahalan fatal seorang laki-laki. Adalah terlalu memanjakan si dia. Kita ambil contoh aja…Membelikan banyak hadiah mahal tiap ketemu, mentraktir ke semua restoran mahal di penjuru kota.
Cewek memang akan suka dengan hal itu. Tapi itu tidak lebih dari fasilitas yang anda berikan. Bukan karena ketulisan dari dalam hati mereka.
Dan anda hanya akan dianggap sebagai pria yang ngarep untuk dicintai. Tidak lebih dari itu
Berikalanlah benda sewajarnya dan pada hari-hari tertentu saja. Kecuali jika si cewek itu telah menjadi istri anda.
Semoga bermanfaat jika anda ingin menjadi lelaki playboy atau cowok idaman.

Cerpen “Cowok si-vespa biru”

Si Vespa Biru
Terang  aja si satpam gendut teriak kesal,fay cewek arogan itu berlari masuk gerbang sekolah padahal jelas kalau si satpam gendut penjaga gerbang sekolah sedang menarik gerbang.
“Fay!” bentak satpam yang bernama Irul.Fay sama sekali tidak peduli.fay berpaling melihat Pak Irul dan apa daya satpam itu hanya bisa melotot,dia sudah terlalu capek dengan kelakuan Fay yang selalu terlambat.Tapi fay hanya berlari dengan meninggalkan senyum manisnya.Sekejap fay menghilang berbaur dengan teman-temannya yang menuju perpustakaan.pak irul hanya bisa menggelengkan kepala.
Perpustakaan yang tadinya sepi,sekarang mulai penuh,eits…tapi hanya sekedar penuh karena semua siswa menyalahgunakan perpustakaan,ada yang pacaran,ngrumpi sampek numpang molor.Tepat di rak buku samping perpustakaan sibuk,Fay sibuk sms-an dan tingkah laku Fay membuat dua sahabatnya heran dengan ulah Fay yang senyum-senyum sendiri.
“Napa loe…kesambet setan bunting?” Werlin menepuk pundak cewek berambut panjang itu.jelas saja Fay terhenyak kaget.
“ Maksud loe?gue smsan tau!”Fay terus asyik dengan layar di HPnya.lengkap sudah kelompok kecil yang sahabatan mulai SD ini.Ada Fay,Werlin,dan Disa.
“Fay, kemaren gue ketemu cowok,Tuh cowok mirip banget ma cowok impian loe…Retro banget.”Disa ikutan nimbrung,kalimat itu membuat Fay terhenyak kaget.
“Weit…yang bener aja loe?emang jaman kayak gini masih musim cowok retro,ah…apalagi cowok pake vespa.Salah liat aja loe…”Fay yang keras kepala sama sekali gak percaya.Engga’ dipungkiri kalau Fay sudah 3 tahun menjomblo.Banyak cowok yang ngedeketin,tapi secepat kilat Fay menolak jika gak sesuai keriteria,yaitu retro.Disa teramat sering mengenalkan cowok-cowok temen kakaknya,tapi Disa hanya mengenalkan Fay hanya pada cowok yang kemana-mana bawa Vespa.Alasannya adalah Fay pernah cerita kalau cowok naik Vespa,itu tandanya Retro,jadi Fay mengartikan Retro adalah cowok bervespa.
“Ya..gue enggak liat langsung sih,tapi gue lihat ada vespa didepan lapangan basket kemarin sore,kayaknya vespanya anak basket deh,?”Disa mulai menerka dan menganalisa.
“Wah yang bener loe?Jadi maksud loe,ada cowok SMA kita yang bawa vespa?Pasti keren.gak kayak kakak loe yang dikenalin ma gue,itu mahasiswa atau o mom sih?”
“Werlin,loe kan cowok basket,tau gak?”Disa ngeles.Untung Fay lupa ma pertanyaannya sendiri.Werlin yang dari tadi ngotak ngatik tepak pensil Disa langsung diinterograsi.Duduk mereka semakin dekat mengapit werlin yang ada ditengah,seperti tersangka teroris.werlin mulai kesal dengan tingkah laku kedua sahabatnya.
“Tau!lagian loe Fay,loe gak waras!kok bisa tergila-gila ama cowok pake vespa?jadul banget tau!Kuno!”Werlin gerah dan nyelonong pergi,Fay dan Disa heran lihat tingkah laku Werlin.
“Gila kali tuh anak?”Fay cuek,tapi tetep terus mencari informasi dari Disa,Akhirnya kedua cewek ituterlarut dalam obrolan yang membuat mereka betah berlama-lama nongkrongin perpustakaan yang mulai sepi karena bel sudah teriak.
Seperti biasa,pagi ini pak Irul sudah duduk santai didepan gerbang sekolah bersiap menutup gernag dengan kode buny bel.ya tepatnya satpam ini sengaja ingin membalas Fay,yang setiap pagi membuat masalah dengannya.
“Pagi pak?”Fay sengaja berjalan santai sambil menggerakkan pantat menggoda pak irul.Melihat fay datang teramat pagi sekali,pak Irul terkejut.Fay hanya tertawa nakal,menertawai ekspresi pak irul.fay memang sengaja datang pagi,dia sudah punya janji dilapangan parker dengan Disa,berdua merencanakan untuk nongkrong di parkiran.Ya…itu dilakuin dengan tujuan buat tahu siapa yang punya vespa biru itu,jadi mereka menjuluki Cowok Si-vespa biru.
Fay dan Disa berdiri dilapangan parker yang tampak penuh,yang dicaripun tak segera muncul.Belpun sudah berbunyi,berarti pula usaha mereka hari ini sia-sia,fay kecewa.
“Itu…!”Disa menunjuk,fay antusias.
“Apa?Mana?”
“Apaan sih loe,orang gue Cuma nunjuk Werlin doang.”Disa melambaikan tangan kearah sahabatnya itu.Fay bjuga ikut-ikutan dan akhirnya dengan gaya coolnya werlin menghampiri.
“Ngapai loe berdua nangkring disini?”
“Loe kira gue tukang parker?”
“Bola basket loe mana?mangnya gak ada latihan?”Tanya fya sambil melangkah bersama kedua sahabatnya menuju kelas karena pelajaran akan segera dimulai.
“Ada,tapi guenya aja lagi males latihan”Jawab werlin sebelum berpisah kearah kelas masing-masing.
Sekarang tepat jam tiga sore,berarti semua tim basket sekolah latihan rutin.Begitu pula Fay dan Disa yang berjanji mulai hari ini akan mengusut tuntas siapa pemilik vespa biru itu.
“Fay udah siap?siapapun yang punya tu vespa,loe enggak boleh kecewa.”Bisik Dira
“Enggak bakalan,lagiian gue sekarang udah bawa surat cinta buat cowok itu,gue letakin deh dibawah jocknya.”Dengan bangga menunjukkan gulungan kertas berwarna pink berhiaskan pita.disa merebutnya,tapi secepatnya Fay ganti merebutnya lagi,dengan gelengan kepala Disa tau maksud fay.
“Sarap loe…loe langsung nembak nih?”
“Yap”Pasti sekali Fay menjawab pertanyaan itu.Setelah seperti maling motor diparkiran dan juga setelah Fay menaruh gulungan itu di jockFay dan Disa segera pulang dengan rasa penasaran yang besar,siapa cowok yang ditembak Fay?
Istirahat sekolah hari ini Disa,werlin,fay janjian ngumpul dikantin sekolah,werlin menawarkan diri untuk mentraktir makan kali ini.
“Ngimpi apa loe semalaem?udah deh jangan ikut-ikutan Fay,dia tu dah sarap dari dulu.”Omel Disa pada werlin,fay dan werlin hanya bisa senyum-senyum.
“Eh mau gue gampar?”Prots fay karena jelas tersinggung dengan kata-kata sarap.
‘’Sukses loe nemuin cowok baru loe yang loe sendiri gak tahu wujudnya?”
“Udah dong”Fay tersenyum girang
“Beneran?”Disa melongo
“Ya orangnya sih gak hancur-hancur banget,lumayan buat kondangan.Cuman satu,pelitnya gak ketulungan.”Jelas Fay.Werlin  kaget,sedikit melotot kearah fay.Disa masih bengong mereka ulang peristiwa.
“Yap!”Fay melempar pandang kearah werlin yang duduk tepat disebelahnya,werlin tersenyum dan dengan mesranya mencium kening fay,Disa semakin kebingungan.
“Kita jadian.”Teriak fay dan werlin bersamaan.Werlin segera nunjukin gulungan kertas yang sudah tak asing lagi.Disa membacanya perlahan.
“Hai…dah lama gue naksir loe,mo gak jadi cowok gue,ajakin gue kencan pake’ vespa loe…hub gue…08563647869.Fay.”Belum paham juga Disa.
“Waktu gue nyampe’ rumah dan waktu itu juga bel rumah gue bunyi,eh werlin yang nongol.Sumpah gue kaget,trus dia tunjukin tu surat mana bawa vespa yang gue incer lagi.”Cerita singkat fay.
“jadi…”Disa mulai merangkai kenyataan.
“Gue udah naksir fay dari 4 tahun lalu waktu kita masih SMP.loe bilang gue pelit?Padahal gue nabung  buat beli ni vespa,gue belain jalan kaki kesekolah,ya Cuma buat nyenengin hatinya tuan putri…”Werlin membela diri.
“O…bagus.padahal kita capek-capek nyari…ternyata…”Disa melotot geram “Jadi traktiran ini buat ngrayain jadian kalian berdua?’’disa menggoyang-goyangkan fay tanda geramnya
“Sebenarnya,waktu gue jadian atau sebelumnya,gue udah ngomong ke werlin kalo’ gue enggak punya perasaan apa-apa,tapi gue bakalan ngrubah perasaan itu ,werlin sih mau ngerti,dan perasaan itu mulai bersemi.”Jawaban Fay hanya mendapat balasan senyum dari werlin.
“Waduh tinggal gue nih yang jomblo.”Kata Disa sebelum mereka bertiga diam menikmati bakso dan escampur dihadapan mereka.

Sebuah cerita dari kampus FKG

Sebuah cerita dari kampus FKG.....
mahasiswa kedokkteran gigi
Serius! itu kata yang pertama kali terfikir saat membayangkan kuliah di jurusan kedokteran gigi, pada saat itu media informasi belum sejelas dan setransparan saat ini, jadi jika tidak ada salah satu anggota keluarga yang jadi dokter,tidak terbayang seperti apa rasanya? Hanya bisa berimajinasi dan mengira-ngira seperti apa dunia perkuliahan itu?itulah temanku... Dia mahasiswa kedokteran gigi yang berasal dari malang dimana dalam keluarga gak ada yang pernah mengambil jurusan kesahatan apalagi menjadi seorang dokter...harapan menjadi seorang dokter gigi sudah lama tertanam dalam angannya semenjak kecil,masuk di fakultas kedokteran gigi adalah hal yang paling membahagiakan untuk dia dan keluarganya...tidak sia2 perjuangan dia untuk mencari tempat kuliah di kota dimana sama sekali dia belum tau seluk beluknya...akhirnya diapun diterima di fakultas kedokteran gigi di universitas jember....

selama dia menjadi mahasiswa banyak suka dukanya....dimana menjadi mahasiswa kedokteran gigi banyak sekali pekerjaan yang memerlukan kekuatan dan tenaga yang sukup besar, seperti mencabut gigi, mengolah bahan-bahan di laboratorium, berhubungan dengan logam-logam cair yang dibakar, dan berbagai pekerjaan lain dalam pembuatan gigi yang membutuhkan tenaga ekstra.Tapi satu hal yang penting harus memiliki jiwa seni yang cukup tinggi, karena pada awal perkuliahan, banyak sekali mata kuliah yang mengharuskan dia untuk bisa memahat, mengukir gigi. Hal ini berguna pada saat pembuatan gigi pada pasien, kita dapat meniru semirip mungkin dengan gigi aslinya. yang sekarang lagi dia pelajari disemester ini dalam menangani pasien yang bermasalah terhadap gigi atau rongga mulut....

Fakultas Kedokteran Gigi, terpisah dari Fakultas Kedokteran Umum, secara langsung terspesialisasi...itu sebabnya dia harus bangga menjadi salah satu mahasiswa kedokteran gigi. Dan bermula dari klinik inilah kisah kasihnya yang unik dimulai, sebuah cerita cukup menarik bagi seorang penulis cerpen. Ketika dia diharuskan mencari pasien untuk tugasnya di klinik yang dia jalani sekarang mempertemukan dia dengan seorang mahasiswa dari kampus lain yang tak pernah terbayangkan olehnya akan menjadi kekasih dalam hidupnya. Entah kenapa orang itu memang gagal menjadi pasiennya hanya karena ada kesalahan kecil dalam persyaratannya menjadi seorang pasien, tapi siapa sangka orang itu telah berhasil membuatnya menyembuhkan beberapa luka lama dihati pada kisah cinta masa lalunya. Dan ku rasa dialah yang menjadi pasien orang itu saat ini. Pada awal pertemuan tak pernah terbesit dibenaknya akan ada rasa yang bisa membuat dia sebahagia ini, beberapa kali pertemuan dan berapa kali telpon-telponan serta dihiasi sms2 tanya jawab dia sadar bahwa ada perhatian yang tertuju padanya yang membuat hatinya kembali merasakan sesuatu yang telah lama hilang.

Ketika dirinya harus menjalani kesibukan sebagai mahasiswa FKG tak disangka kalau orang yang telah gagal menjadi pasiennya itu menyatakan cinta padanya setelah cukup waktu untuk masa PeDeKaTe, setelah dengan segala pertimbangan dan singkat cerita akhirnya mereka berdua jadian untuk menjalani kisah cinta dihidup mereka saat ini.

Betapa bahagianya teman ku itu saat ini, karena sampai detik ini kekasih hatinya itu belum pernah gagal menjadi seorang pacar untuk dirinya. Ketika dia tidak berani untuk berharap lebih pada sesuatu dia telah mendapatkan apa yang pantas untuknya, seseorang yang mampu membuat hidupnya lebih ceria dan kembali bewarna setidaknya sampai saat ini.. Sesuatu yang berharga yang didapat dari sebuah kampus yang dia dicintai, sebuah cinta penyejuk hati dari kampus lainnya... ternyata memang benar kalau Fokus pada satu keinginan memungkinkan pencapaian banyak keinginan.
Pagi hari itu, matahari tengah bersinar di ufuk timur dengan iringan burung-burung yang berterbangan liar melintasi luasnya langit biru. Mereka seolah menjadi atraksi pembuka hadirnya hari baru yang siap ditapaki dengan pasti oleh mereka berdua... Yah,aku rasa,memang tidak ada salahnya bersikap percaya diri dan punya prinsip dalam hidup,agar semua jadi bisa berjalan dengan baik,tapi tentunya dengan doa dan usaha. Seperti kami,selalu berusaha memberikan yang terbaik sesama teman,dan saling mendoakan yang terbaik untuk masing-masing.

(Untuk seorang teman yang telah memberiku gigi baru. Thax to, mahasiswi FKG UNIVERSITAS JEMBER)

Senin, 07 Juni 2010

Sejarah Berdirinya Jembatan Ampera



                Setelah merdeka, masyrakat seberang ulu dan seberang ilir jika hendak menyeberang. Mereka menggunakan transportasi air berupa perahu atau tongkang. Masyrakat Palembang lalu meminta kepada Presiden RI pertama, Ir Soekarno untuk membuat jembatan yang dapat memudahkan akses transportasi melakukan penyeberangan. Soekarno setuju. Pembangunan jembatan dimulai 16 September 1960 silam. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampas an perang Jepang yang ditaksir kala itu sekitar 2,5 miliar yen. Tenaga ahli juga didatangkan dari negeri matahari terbit tersebut. Semula bagian tengah badan Jembatan Ampera ini bisa diangkat bila ada kapal besar yang lewat di bawahnya. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan mengangkat hanya butuh 30 menit untuk mengangkat penuh jembatan. Namun kemampuan untuk angkat badan jembatan itu hanya bertahan sekitar 10 tahun. Sebab pada tahun 1970, bagian tengah jembatan ini sudah tidak dapat diangkat lagi karena arus lalu lintas sudah mulai ramai yang melewati jembatan itu. Kapal kecil yang memiliki ketinggian maksimal 9 m, masih dapat lewat di bawah jembatan kebanggan wong kito ini. Tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara ini diturunkan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
                Jembatan Ampera semula berwarna abu-abu. Kemudian sempat diubah warna kuning pada masa Orde Baru. Kemudian di masa kepemimpinan Wali Kota Eddy Santana Putra, warna jembatan itu itu dicat merah. Eddy Santana yang ingin menghidupkan wisata bahari Palembang. Menghiasi jembatan tersebut dengan lampu-lampu yang menarik. Alhasil landscape berlatar belakang Jembatan Ampera sangat indah dengan kerlap-kerlip cahaya lampu yang menawan. Ada juga orang yang berkomentar melihat Jembatan Ampera setelah dipoles, laksana melihat jembatan San Fransisco di malam hari. Mungkin perbandingan ini amat jauh namun sedikitnya wong Palembang, boleh bangga karena keindahan jembatan itu mulai menyedot perhatian. Obsesi Eddy Santana untuk menjadikan Jembatan Ampera sebagai ikonnya kota Palembang secara internasional berangsur-angsur sepertinya mulai terwujud. Televisi nasional mulai sering menggelar event nasional berlatar belakang jembatan tersebut.
                Jembatan Ampera atau orang-orang tua kadang menyebutnya ‘Proyek’ diresmikan Letjen Ahmad Yani, pada 30 September 1965. Ini merupakan kiprah terakhir Letjen Ahmad Yani di Sumsel karena besoknya beliau tewas dibunuh oleh Gerakan 30S-PKI. Mulanya jembatan ini dinamakan Jembatan Bung Karno. Pemberian nama ‘Bung Karno’ sebagai ungkapan terima kasih masyarakat Sumsel khususnya warga Palembang karena Presiden Soekarno telah mengabulkan permintaan masyarakat agar dibangunkan jembatan. Namun saat itu wibawa Bung Karno sedang merosot tajam apalagi pasca peristiwa penculikan tujuh jenderal dalam Gerakan 30S-PKI. Gerakan Anti-Soekarno, menyebar dimana-mana sehingga berakibat juga pergantian nama jembatan menjadi Jembatan Ampera yang merupakan singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat.
                Jembatan kebanggan wong Sumsel ini, sudah sering tertabrak kapal pembawa batu bara yang melintas di bawahnya. Selain memang sudah berumur ada benturan keras itu menyebabkan pergeseran sehingga diperlukan renovasi. Tahun 1981, pemerintah menghabiskan dana sekitar Rp. 850 juta dalam melakukan renovasi. Renovasi dilakukan setelah muncul kekhawatiran akan ancaman kerusakan Jembatan Ampera bisa membuat ambruk. Kekhawatiran ini cukup beralasan. Januari 2008 silam, sebuah tongkang pembawa batu bara menabrak jembatan ini hingga menyebabkan salah satu tiang fender patah. Seorang peramal asal Belanda, Mama Laurent juga pernah meramalkan pada tahun 2007 Jembatan Ampera akan ambruk jika tidak dilakukan renovasi. Memang ramalan itu tidak terbukti apalagi pemerintah menyikapinya dengan melakukan renovasi. Pemerintah Jepang juga pernah melakukan riset yang kesimpulannya menyatakan Jembatan Ampera masih tetap kokoh sampai 50 tahun lagi.
                Masih kuat dalam ingatan kita, pada era 1970 hingga 2000, suasana dibawah Jembatan Ampera sangat kumuh dan becek. Disana berkumpul mobil angkot tua antre menunggu penumpang, penjual buku dan majalah bekas, pedagang pakaian bahkan jika sore pedagang ikan juga menggelar dagangannya disana. Suara hiruk pikuk suara pedagang menjajakan barang dagangannya ditambah aroma tidak sedap dari tempat sampah yang tidak diangkat petugas kebersihan sehingga isinya sudah meluber dari tempat yang disediakan. Sekarang pemandangan itu tidak ada lagi. Pemerintah Kota Palembang terus menata sekitar Jembatan Ampera termasuk juga gedung-gedung pertokoan di Pasar 16 ilir, yang merupakan bangunan lama ditata apik. Catnya diperbarui, atap-atapnya juga dibuat dengan menonjolkan desain lama yang mengandung sejarah. Pada malam hari, di bawah Jembatan Ampera Seberang Ilir, banyak pedagang berjualan berbagai jenis kuliner murah meriah namun enak di lidah. Gebrakan Wali Kota Eddy Santana Putra dalam mewujudkan Wisata Bahari dengan ikon Jembatan Ampera dan BKB, sepatutnya mendapat acungan jempol. Di seberang ulu, Pemkot Palembang juga akan membangun plaza yang memungkinkan masyarakat dapat menikmati keindahan sungai yang merupakan urat nadi perdagangan internasional pada masa Kerajaan Sriwijaya. Pemerintah juga akan menjadikan Rumah Kapitan sebagai salah satu lokasi kunjungan wisata di Kota Palembang.
Di masa dia, pedagang kaki lima (PKL) dapat dipindahkan tanpa harus ada ketegangan yang berdampak anarkis. Sebagai warga Kota Palembang atau Sumsel, seharusnya kita ikut berpartisipasi mewujudkan Palembang sebagai kota wisata bahari dengan turut menjaga keamanan, keramahan serta kebersihan sehingga wisatawan baik domestik maupun mancanegara merasa nyaman dan aman berada di kota empek-empek ini. Bukankah jika banyak wisatawan akan berdampak meningkatnya perekonomian wilayah yang bersangkutan.

http://blog.unsri.ac.id/irulpiero/informasi/sejarah-berdirinya-jembatan-ampera/mrdetail/5694/

Kisah Apel

Gerimis merintik. Tak terdengar 'tik-tik-tik'. Hanya laksana potongan benang halus yang terbang dari langit malam, hingga yang kelihatan hanya yang tersorot lampu jalanan. Pengendara motor yang sesekali masih melintas tengah malam, mempercepat laju motornya. Takut, rinai gerimis berubah menjadi hingar-mengguyur-kuyup!
Wanita setengah baya itu, sejam yang lalu mengintip dari balkon rumahnya. Bukan mengintip gerimis. Tak ada pengendara motor yang diintainya. Anak lelakinya yang biasa pulang tengah malam, pun membawa kunci sendiri dan tak perlu ditunggui.
Akhir-akhir ini dia diresahkan oleh lelaki kumal tak berbaju yang sering tidur di emperan rukonya, hingga pagi. Awalnya, anaknya yang pulang tengah malam, bercerita jika lelaki misterius itu tertidur di depan pintu masuk rukonya. Tapi tak digubrisnya. Namanya juga gelandangan! Terlalu kejam jika untuk emperan pun, dia tak mau berbagi.
Tapi saat pagi menjelang dan dia hendak membuka toko kelontongannya, lelaki itu masih tertidur tepat di depan pintu. Berbantalkan lengan, tanpa alas apa pun, lelaki itu masih tetap juga ngorok. Arus lalu lintas di depan ruko, mulai mengalir. Deru mesin, klakson, teriakan kondektur mencari penumpang, tak satu pun mengganggu tidurnya. Bukan hanya nyamuk, beberapa lalat lebih memilih bertengger di tubuhnya daripada mencari makan di tempat sampah yang tak jauh dari tempatnya meringkuk.
Matanya masih tajam mengawasi gelandangan itu. Pintu rukonya belum terbuka sempurna. Sebuah tahi lalat di pipi kiri lelaki itu, membuka semua file masa lalunya yang pernah dia hapus paksa. File itu ternyata masih tertahan di sebuah recycle bin. Tahi lalat di pipi kiri itu, menjadi pengungkit masa lalunya. Sakit lagi. Meski sebelumnya memang tak pernah dia rasakan bersenang-senang. Dia merakit sendiri. Merangkak, bangun dan menegarkan diri saat dia terjatuh. Hingga dia bangkit lagi seperti kini.
Sebotol air mineral jualannya, diraih lalu ditumpahkan di atas kepala gelandangan itu. Byurrr! Gelandangan yang ternyata juga tak waras itu, bangkit dan berlari dari tempatnya. Terkekeh, bicara sendiri tanpa ada yang tahu makna bicaranya. Tapi matanya, jelas menyorot tajam ke wanita yang baru saja menyiram tubuhnya.
"Pergi!"
Dia berlari kencang, saat wanita itu mengusirnya dengan suara penuh amarah.
Malam ini, wanita itu mengintipnya dari balkon. Gelandangan gila itu, mengais-ngais tempat sampah. Sisa makanan dikumpul lalu dilahapnya dengan tangan kumal. Di bawah sorot lampu jalan yang berada tepat di atasnya, lelaki itu menikmati gerimis yang tak juga reda, pun tak berubah deras. Lelaki itu terdengar seperti mengigau, sesekali.
Harapnya, lelaki itu hanya kebetulan mangkal di depan rukonya. Tapi menelusuri lembaran masa lalu, sepertinya mustahil jika itu sebuah kebetulan. Ini Makassar. Lelaki itu terakhir dilihatnya, ditinggalkan tepatnya, di Surabaya.
Dia ingin menyangkal. Membantah kata hatinya jika lelaki itu mantan suaminya, tapi bukan hanya tahi lalat, pemilik tubuh kumal dan kurus itu masih menyisakan jejak masa lalu dari tatapannya. Dia tak ingin masa lalu itu kembali padanya. Bukan karena lelaki itu telah gila dan jadi gelandangan, tapi karena lelaki itu juga pernah membuatnya mendekati gila. Baginya, itu karma. Dulu dia yang diterlantarkan dengan kehadiran istri kedua, istri simpanan, selingkuhan, dan entah wanita jenis apalagi yang dihadirkan untuk melukainya.
Untungnya dia masih punya ruko warisan orangtua, tempatnya berpulang. Hingga dia bisa menjadi single parent buat anaknya yang kini kuliah di universitas swasta.
Gerimis reda. Dia hendak masuk, membiarkan lelaki dari masa lalunya itu, meringkuk di depan rukonya. Tapi suara motor anaknya yang pulang tengah malam, menghalangi langkahnya untuk beranjak.
Dari balkon, jelas sekali, lelaki itu menghampiri anaknya.
"Ridha, kamu jangan mau disentuh olehnya!" teriaknya dari atas balkon.
Anaknya hanya tersenyum. Untuk yang pertama kalinya dia meragukan ketulusan hati mamanya. Biasanya, mamanya yang selalu mengajarkan dia untuk tidak sombong apalagi bersikap angkuh pada siapa pun. Atau orang gila dan gelandangan adalah pengecualian? Anaknya yang tak tahu masalah, hanya menggeleng.
Wanita itu berlari dari balkon, turun untuk meleraikan anaknya dari pegangan lelaki kumal itu.
"Masuk cepat! Kamu tidak jijik melihat dia? Kamu bisa tertular penyakit gilanya. Cepat cuci tangan yang bersih, kulihat kamu tadi menyambut uluran tangannya."
Prakkk!
Pintu ruko tertutup keras. Lelaki kumal itu tersentak. Anaknya keheranan. Di matanya, perlakuan mamanya lebih gila dari lelaki tak waras tadi.
***
Bulan mengintip. Bintang mengintai. Tentulah malam remang. Wanita itu gamang. Ragu. Tapi dia tak ingin mengubah keputusannya. Sebuah apel merah, yang telah disuntikkan racun tikus, dibuangnya ditempat sampah. Tentu saja, bukan untuk dimakan tikus, tapi untuk lelaki yang pernah masuk dalam kehidupannya itu. Pikirnya, kalaupun mati tepat di depan rukonya, orang tak akan curiga. Paling juga orang berpikir, mati karena sakit. Lagi pula, siapa yang akan mengurus dan memperdulikan orang gila seperti dia, untuk diotopsi, diselidiki kematiannya. Keluarganya? Dia takkan gila jika masih punya orang yang peduli padanya. Pemerintah? Negeri ini masih banyak urusan. Kematiannya bahkan dianggap mengurangi sedikit masalah.
Sebenarnya dia tak keberatan, lelaki kumal itu menjadikan emperan tokonya sebagai rumah, seandainya tak ada ikatan masa lalu antara mereka. Dia tak keberatan mantan suaminya itu mengetuk kembali pintu hati yang telah dibantingnya keras, andai lelaki kumal itu tak pernah menelantarkan cintanya. Sulit. Luka cinta memang selalu sulit untuk disembuhkan, teramat sulit untuk dimaafkan.
Dia merapatkan telinga di pintu rukonya saat sebuah langkah terdengar dari luar. Lelaki bejat itu, pikirnya. Saat terdengar suara seperti mengigau. Dia mulai berani menggedor pintu, pikirnya.
"Ini yang terkahir kalinya kamu menggedor pintu rumahku! Aku punya apel merah kesukaanmu dulu. Itu untukmu. Pengantar tidurmu!" lanjut batinnya, penuh benci.
"Ma, buka pintu!"
Mama? Bencinya semakin membuncah. Seperti minuman bersoda dalam kaleng, dikocok lalu dibuka tutupnya. Muncrat! Tapi dia mempertahankan bencinya untuk tidak meluncur dulu. Dia biarkan terkocok oleh suara-suara igauan lelaki dari balik pintu rukonya.
Suara igauan itu, kini reda. Berganti suara sampah kertas yang berserakan.
"A-apel me-merah...."
Wanita itu tersenyum. Senyum pengantar kematian buat lelaki yang selama ini dicintainya.
"Sedikit pahit, tapi enak!"
Dasar gila! umpat batinnya, masih tersenyum, sambil berlalu ke tempat tidur. Dia butuh istirahat yang cukup untuk perannya sebagai orang yang tak tahu apa-apa, besok pagi, saat tubuh lelaki itu didapatkan kaku di depan rukonya.
***
Pintu rukonya ramai digedor orang. Dia masih menyempatkan diri bercermin. Melatih wajahnya untuk tak menampakkan muka gugup, tanpa dosa. Merasa telah menghayati peran, dia beranjak. Begitu pintu terkuak, orang-orang yang berkerumun, memberi jalan untuknya. Seorang lelaki terbujur kaku, meski sangat mirip, tapi dia yakin jika dia bukan lelaki sasaran racun tikusnya. Dia meradang, saat lelaki yang ingin dibunuhnya semalam, kini berdiri di seberang jalan, dengan mata sembab.
Mayat lelaki yang di depannya kini, adalah putra tunggalnya. Semalam pulang dari pesta minuman keras. Mabuk. Mengingau. Melahap apel merah untuk papanya, saat mamanya tak membukakan pintu untuknya.
Lelaki di seberang jalan, masih menatapnya tajam. Seolah dia menunggu di sana. Di dunia lain. Dunia para orang gila. Kehilangan putra tunggalnya, akan mengantar dia ke dunia itu. ©

Tentang Kesetiaan

Cewekku namanya Caca. Sebenarnya dia baik. Apalagi wajahnya cantik dan dia adalah seorang yang periang. Suasana jadi selalu ramai. Dan malam ini, aku seneng banget bisa berduaan sama Caca setelah kesibukan di kampus. Malam ini indaaahh.... banget! Tapi sebuah sms telah mengacaukan semuanya. Dan Caca yang cantik dan baik itu, berubah bagai kucing yang sedang mengamuk.
Caca menyodorkan ponselku setelah dia membaca sms yang masuk tadi. Caca memang selalu 'menguasai' ponselku saat kami sedang bersama-sama. Wajahnya sereemm banget! Aku jadi penasaran. Ada yang nggak beres nih!
Ternyata dari Maya!
'Malam. Sebel deh nggak bisa ketemu elo. Dari kemarin adaaa aja alasan. Skrg lo dmana?'
"Ada ya, temen yang rajin laporan; jam segini ada di sini, lagi begini, mau begitu, nanti begini, besok bla-bla-.bla! Selalu ada selamat pagi, sore, malam... terus selalu mau tahu ada dimana, ngapain...." Caca melotot. "Sumpah! Sebenernya hubungan kalian sampe mana sih? Ada apa? Nggak mungkin cuma sobatan. Atau.... Temen Tapi Mesra?"
Aku memilih diam. Caca pantas marah. Dia pasti cemburu. Hei, cemburu kan tanda cinta. Berarti Caca cinta banget dong sama aku!
"Gue juga punya sobat cowok, Bim! Tapi nggak gitu-gitu banget! Gue bisa hapal, dalam satu minggu, sms dari cewek reseh itu bisa masuk ke hp lo lebih dari dua puluh kali! Hebat!"
Aku masih diam.
"Gue pikir, setelah petengkaran-pertengkaran kita, lo akan membatasi hubungan lo sama cewek itu. Terutama setelah pertengkaran terakhir kita minggu lalu. Eh... ternyata hasilnya masih sama ! Lo masih kayak begini?"
"Ca, coba simak lagi. Baca sekali lagi. Dia bilang kan sebel nggak bisa ketemu gue dan selalu ada alasan. Nah, berarti gue udah berusaha menjauhi dia, kan? Ayolah, jangan rusak malam ini, Ca!"
"Malam ini udah kelewat rusak! Gue mau pulang!"
Caca beranjak tanpa babibu lagi. Malam ini keindahannya sudah berakhir.
***
Aku bukan sahabat yang baik. Aku juga bukan kekasih yang baik. Aku tak tahu apa sebutan yang tepat untukku. Saat sahabatku membutuhkan aku, aku malah mengabaikannya demi sebuah janji pada kekasih.
Caca berhak marah dan cemburu. Cewek mana pun pasti akan berlaku sama. Maya adalah salah satu kawan baikku sejak kecil. Bersama teman yang lain, kami selalu bersama-sama. Kemudian kami semua pisah sekolah, tapi kami tetap berkomunikasi dan janji bertemu. Terakhir hubungan itu masih tetap terjalin saat kami masing-masing duduk di bangku SMA. Sejak kami duduk di bangku kuliah hubungan itu terputus. Kami masing-masing sibuk. Saat aku mulai pacaran sama Caca, tiba-tiba Maya menghubungiku lagi dan komunikasi kami kembali lancar. Tapi Caca nggak bisa menerima. Di mata Caca, aku dan Maya terlalu dekat.
Maya benar-benar sahabatku. Tidak lebih. Kalau menurut Caca aku terlalu memperh atikan Maya, benar! Aku tahu banyak tentang Maya . Di balik sikapnya yang rame, ternyata suatu saat dia bisa begitu rapuh dan menja di orang yang sangat lemah. Maya memang lemah. Dia tidak seperti kelihatannya. Kalau sudah begitu aku hanya bisa me meluknya. Berada di dekat Maya membuatku merasa dibutuhkan.
Maya tahu tentang Caca. Jelaslah, aku ceritakan semua hal tentang cewek cantikku itu pada Maya. Kepada Caca aku juga bercerita tentang sahabatku Maya. Dan mereka sudah pernah kupertemukan. Mulanya Caca bisa menerima kalau aku sobatan sama Maya. Tapi lama-lama kemudian Caca mulai menunjukkan tanduknya. Dia mulai nggak suka melihat aku teleponan sama Maya. Dia juga benci banget kalau melihat sms Maya muncul. Aku juga bingung. Aku nggak mungkin memutuskan persah abatanku dengan Maya begitu saja, terutama karena aku tahu banyak apa yang sedang menimpa Maya... Maya sedang membutuhkan seseorang. Kebetulan orang itu adalah aku.
***
Hari ini aku ingin sekali menelepon Caca. Aku ingin minta maaf dan ingin merayunya. Tapi Caca pasti masih sebel banget sama aku. Kalau masih marah begitu, dia akan menolak teleponku atau malah menutupnya. Paling sial kalau dia malah ngamuk dan mengeluarkan kata-kata mantra di telepon. Wah, mending tunda dulu deh menelepon dia. Biar dia tenang dulu. Kalau sudah tenang, aku yakin Caca pasti mau menerima teleponku dan memaafkan aku. Malah Caca pasti kangen sama aku. Hah!
Mending aku telepon Maya dulu. Aku akan jelaskan soal smsnya kemarin malam itu.
"Haaa... lo jahat!"
Itu kalimat pertama yang aku dengar begitu ponselku nyambung ke nomornya.
"Gue sibuk, May!"
"Haaa... sok sibuk lo! Sampe nggak sempet hubungin gue. Jahat!"
"Udah ah jangan marah-marah mulu! Kan sekarang gue hubungin elo. Gimana, lo sehat kan, baik-baik aja kan?"
"Lumayan. Kemarin agak capek dan kambuh lagi. Tapi baik-baik aja, kok. Sekarang gue lagi nyiapin sumpahan buat lo!"
Itulah Maya. Ceria, rame dan sembarangan. Gayanya itu bikin aku menyukai persahabatan ini. Tapi Caca....
"Kenapa lo? Kok diam aja? Haaa... takut ya sama sumpahan gue? Tenang, sumpahan yang gue siapin ini nggak jahat-jahat banget. Cuma... 'sumpah jerawat lo tambah banyak, sumpah lo nggak ganteng lagi, sumpah lo nggak kawin-kawin.... hahaha!"
"Gue lagi berantem sama Caca!"
"Wah, seru tuh! Kenapa lagi?"
"Gara-gara sms lo semalem."
Sepi.
"May?"
"Gue jadi bingung. Gue kan cuma sms doang. Sms gue kan biasa aja, Bim. Nggak ada tanda-tanda apa pun. Apa lagi sampe ke pornografi."
"Iya, gue juga udah berusaha jelasin ke Caca, tapi dia nggak ngerti. Maafin Caca juga ya, May!"
"Maksud lo, selama ini hubungan kita jadi mengganggu hubungan lo sama Caca? Bim, aku kan nggak ngapain-ngapainin elo! Kita kan udah sobatan sejak kecil, sejak Caca belum ada di antara kita!"
Wah, aku nggak ngira Maya bisa protes begini.
"Pantes belakangan ini lo sulit banget dihubungi. Sms gue nggak dibales. Telepon gue nggak dijawab. Gue pikir lo bener-bener sibuk di kampus. Taunya lo bermaksud jauhin gue!"
"Eh, tapi beneran gue sibuk di kampus, May! Suer!"
Sepi.
"Ya, udah. Gue seneng kabar lo baik-baik aja. Lo tetep sahabat gue yang paling baik yang paling bawel... bye! Jaga diri baik-baik ya, May!"
Tep.
Baru saja ponsel kumatikan, di depanku sudah berdiri Caca plus dengan muka cemberutnya yang bikin cantiknya bener-bener hilang.
"Pantes dihubungin dari tadi hp lo sibuuukk terus."
"Caca? Ngapain ke sini?" Sumpah aku kaget. Nggak nyangka pacarku datang duluan sebelum aku minta maaf dan merayunya.
"Gue ke sini mau ngambil tas gue yang semalam ketinggalan di mobil lo! Jangan GR!" Caca beranjak ke mobilku yang kebetulan tidak kukunci. Aku segera menarik tangannya.
"Ca, maafin soal semalam ya."
"Aduh, Bim! Cape deh kalo cuma denger maaf, maaf, maaf."
"Abis gue mau ngomong apa lagi?"
Tak disangka tiba-tiba Caca meraih ponsel di tanganku dengan gerakan cepat. Dia mengecek sesuatu. Lalu...
"Barusan aja lo abis nelepon dia, ini buktinya!" Caca menunjukkan register di ponselku. Aku nggak bisa mengelak. "Sementara semalam kita baru berantem soal ini, eh lo udah asyik-asyik teleponan sama dia."
"Gue lagi jelasin ke dia, supaya dia nggak hubungin gue lagi...."
"Basi!"
"Bener, Ca!"
Caca tak menggubris kata-kataku, dia beranjak. Aku mengejarnya.
"Kita putus, Bim!" Caca menepis tanganku.
Oalah! Putus dari Caca? Bisa gempa bumi aku! Aku nggak mau kehilangan cewek cantik ini. Aku harus menyelamatkan hubungan ini.
"Plis, Ca. Masa putus sih? Apa sih yang salah dengan persahabatan gue dan Maya?"
"Ya jelas salah! Lo kan udah punya cewek. jaga dong perasaan cewek lo!"
"Oke, kasih gue kesempatan. Apa yang harus gue lakukan?"
Caca berhenti. Menatapku dengan matanya yang dingin.
"Cewek mana pun akan berlaku sama, Bim. Jangan sakitin gue! Kita udah sering bertengkar soal Maya, Maya...! Gue capek. Lo harus pilih gue atau dia!"
"Kenapa harus milih? Gue nggak perlu milih, Ca, karena lo memang pacar gue, sedangkan Maya cuma temen."
"Kalo emang gue begitu berarti buat lo, jauhin Maya. Sejauh-jauhnya! Cewek itu juga harus pergi sejauh-jauhnya dari lo. Cuma itu."
Aku terpekur. Lama kemudian aku mengangguk.
***
Aku menepati janjiku pada Caca. Sms dan telepon Maya tak kugubris. Lama-lama Caca mulai percaya lagi padaku dan aku merasa damai. Lama-lama juga Maya merasa kalau aku menjauhinya. Mungkin Maya kecewa. Suatu hari dia mengirim sms:
'Kangen bngt ngobrol sama lo, becanda, tertawa. Tp gw tau, ada Caca di sisi lo. Dan lo lbh memilih menjaga hati Caca. Tapi, Bim, berada di sisi lo membuat gw lbh kuat....'
Aku trenyuh membaca kalimat itu. Maya mungkin sedang kesakitan. Dia butuh seseorang. Tapi aku terikat janji pada Caca. Aku berharap ada orang lain saat ini di dekatnya.
***
Hubunganku dengan Caca semakin mulus. Sampai kemudian sms Maya membat pertahananku mulai goyah.
'Lo adlh sahabt terbaik gw. Lo yg slama ini memberi semangat bwt gw. Gw udh cb brtahan, Bim. Tp gw bener-bener butuh lo. Plis, Bim.'

Berapa lama aku tak menghubungi Maya? Sebulan dua bulan.... Aku tak ingat lagi. Maya sudah terlalu kesakitan. Saat seperti itu Maya butuh genggaman tanganku. Aku harus menemuinya. Tapi tiba-tiba Caca muncul.
***
Aku bukan sahabat yang baik. Aku juga bukan kekasih yang baik. Aku tak tahu apa sebutan yang tepat untukku. Saat sahabatku membutuhkan aku, aku malah mengabaikannya demi sebuah janji pada kekasih. Saat aku mencoba setia pada kekasih, pikiran dan perasaanku terus berkecamuk rasa bersalah.
Aku benar-benar bersalah pada Maya. Aku yang selama ini mengaku mengenal tentang Maya, mengetahui apa yang sedang menimpa Maya, ternyata berlaku tega... mengabaikannya!
"Dia penderita leukemia sejak dua tahun yang lalu, Ca. Saat kondisinya sedang lemah dan kanker itu terus menyerangnya, dia butuh seseorang di sampingnya. Sekedar menggenggam tangannya, memberinya kekuatan. Cuma gue yang tahu tentang ini. Dia sendirian, nggak punya siapa-siapa kecuali tantenya yang gendut dan galak itu. Dan akhirnya cuma gue yang, dulu, selalu menemaninya melalui kesakitan-kesakitannya. Belakangan setelah gue terikat janji untuk menjauhi Maya, gue nggak tahu siapa yang ada di sampingnya menggenggam tangannya, melalui masa-masa kesakitannya. Kamu tahu, Ca, saat kesakitan itu datang, Maya sangat tersiksa. Mengerang dan berusaha menahannya. Gue aja sering nggak kuat ngelihat dia begitu... kasihan, Ca. Kasihan Maya. Andai lo tahu betapa gue merasa amat bersalah pada Maya., karena dulu gue pernah berjanji pada Maya untuk selalu menemaninya melalui masa-masa ke sakitannya. Gue melanggar janji itu, demi lo, Ca! Maafin gue, Maya. Gue bukan sahabat yang setia, karena gue sedang mencoba menjadi kekasih yang setia. Maafin gue... maafin gue!"
Kalimat itu kuucapkan di depan tanah merah dan basah. Sebulan Maya berjuang melawan kesakitannya, benar-benar sendirian. Tanpa seorang pun di sisinya, menggenggam tangannya. ©

Bintang Tak Akan Jatuh

Tiara, semua yang ada padamu hanyalah keindahan dan kesempurnaan. Andai saja kamu buatan pabrik, tentulah kamu rakitan seorang maestro dengan komponen pilihan utama. Tidak saja kamu cantik. Tapi juga pintar. Rendah hati, ramah dan baik. Mungkin penilaianku sangat subjektif. Tapi memang begitulah kamu.
Tiara. Aku mencintaimu. Bahkan amat sangat mencintaimu. Cintaku padamu melebihi apapun di muka bumi ini. Termasuk diriku sendiri.
Mungkin terdengar gombal. Tapi begitulah adanya. Dan aku yakin aku bukanlah satu-satunya pria yang mencintaimu. Tapi aku juga yakin tak ada pria yang mencintaimu melebihi aku. Katakan Tiara, apapun kulakukan demi menyenangkan hatimu. Dan apapun akan kuberikan demi mendapat cintamu.
Tiara....
"Aduh...."
"Melamun lagi? Kamu tahu tidak, kucingku kebanyakan melamun, sorenya mati kelindas kereta api."
Aku mengelus kepalaku yang ditimpuk Joko dengan tasnya. "Itu kucingmu. Kucingku lain lagi ceritanya."
"Apa?"
"Pagi melamun, sorenya diadopsi sama Nafa Urbach."
Joko terbahak. "Ngarang!"
Aku mesem. Bayangan Tiara hilang dari benak. Namun justru sosoknya yang kini hadir di depan. Tanpa menoleh kanan-kiri apalagi ke atas, Tiara melenggang indah menuju bangkunya yang berada paling depan sebelah kanan.
Makin hari Tiara makin cantik saja. Dengan rambut model apapun, selalu sesuai dengan wajahnya. Andai dimodelin rambut Rohaye, barangkali Tiara tetap cantik. Atau bisa jadi kian kiyut.
Tiara, I really love you. So much.
"Hei...," Joko mencolek bahuku.
"Apa?"
"Lihat, Tiara makin cantik saja. Tapi sayang...."
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Sayang dia nggak mau sama aku."
"Habis wajah kamu jelek. Nggak komersil."
Joko mencibir. "Kayak kamu itu kebagusan saja."
"Wajahku memang nggak menarik. Tapi aku punya percaya diri yang tinggi."
"Itu bukan percaya diri namanya. Tapi nggak tahu diri."
"Lihat saja. Aku akan mendapatkan Tiara."
"Mimpi!" ejek Joko, menahan senyum.
Tiara cantik, itu semua orang tahu. Banyak lelaki yang jatuh cinta padanya, itu juga sudah menjadi rahasia umum. Tapi kalau aku terobsesi untuk mendapatkan Tiara, itu hanya aku yang tahu.
Setahuku Tiara belum punya pacar. Tapi andai pun sudah punya pacar, langkahku tak akan surut. Selagi janur kuning belum menggantung di depan rumahnya, Tiara masih bebas memilih. Apalagi di zaman edan ini, yang punya anak saja masih ada yang mengejar.
***
Pagi di sekolah. Di ruang kelas, hanya ada aku sama Tiara. Memang semenjak dekat dengan Tiara, aku selalu berusaha untuk datang sepagi mungkin. Biar bisa berduaan.
"Hai...."
"Hai juga!"
"Nggak turun ke kantin?"
"Malas."
Aku mengambil tempat di kursi sebelah Tiara. Kebetulan jam istirahat. Kebetulannya lagi Lia teman sebangku Tiara sudah turun ke kantin.
"Kamu nggak ke kantin?"
"Malas juga."
Tiara tersenyum mendengar jawabanku yang tidak kreatif.
"Asyik sekali. Baca apa?"
Tiara menunjukkan buku di tangannya padaku.
"Oh, suka baca novel?"
"Iya. Khususnya Marga T sama Mira W. Ceritanya ringan dan mudah dicerna."
"Supernova suka nggak?" tanyaku asal.
"Pernah baca sih. Bukannya terhibur, yang ada kepalaku pusing. Ribet banget."
"Sama, dong!"
"Kamu suka baca novel juga?"
"Terkadang. Kalau lagi suntuk atau nggak ada kegiatan."
"Kamu suka siapa? Agatha, ya?"
Aku bingung. Tapi akhirnya kuanggukkan saja kepalaku. Untungnya Tiara tak bertanya lebih lanjut. Karena aku tidak tahu siapa itu Agatha. Mungkin Agathawati, atau mungkin juga Agatha Dewi.
Tiara terlihat antusias. "Di rumah banyak buku Agatha. Kebetulan abangku ngefans sama dia. Kalau kamu mau datang saja ke rumah."
"Kapan aku boleh datang?"
"Terserah kamu."
"Malam Minggu, boleh?" tanyaku ragu-ragu.
Tiara diam sejenak. Tapi akhirnya mengangguk.
Aku tersenyum senang. Dadaku buncah. Ah, Tiara. Ternyata tak sesulit dugaanku untuk mendapatkanmu.
***
"Kamu terlihat dekat sama Tiara."
"Siapa dulu, dong. Robert!" kataku sambil menepuk dada.
Joko mencibir. "Kamu pelet dia?" bisiknya kemudian.
Aku melotot sama sahabat kentalku itu. "Pikirmu aku cowok pengecut, yang hanya berani mengambil jalan pintas?!"
Kembali Joko mencibir. "Kalau nggak mana mungkin Tiara mau dekat-dekat sama kamu. Kamu kan jelek banget."
"Berapa kali aku harus bilang, kegantengan bukan segalanya. Masih ada sesuatu yang lebih penting di atas itu."
"Apa?"
"Cinta dan perhatian. Plus kasih sayang."
Joko terbahak. Seolah mengejek ucapanku barusan. Terus terang aku sakit hati mendengar tawanya itu.
"Kalau hanya itu, setiap orang juga punya untuk cewek secantik Tiara. Tapi harta dan tampang, tidak semua orang punya."
"Terserah anggapan kamu. Yang pasti Tiara memilih aku sebagai cowok yang paling dekat dengannya untuk saat ini. Itu karena aku punya keistimewaan, dong!"
"Dukun kamu barangkali, sakti luar biasa."
Aku menatap Joko tak suka. "Terserah apa kata kamu."
***
Pagi di sekolah. Di ruang kelas, hanya ada aku sama Tiara. Memang semenjak dekat dengan Tiara, aku selalu berusaha untuk datang sepagi mungkin. Biar bisa berduaan. Agar kami semakin akrab dan lebih mengenal pribadi masing-masing.
"Beth, minggu depan aku ulangtahun."
"Oya?"
"Rencananya mau aku rayain."
"Di hotel atau cafe?"
"Di rumah saja. Aku bisa minta bantuan kamu?" tanyanya ragu-ragu.
"Bisa, dong!" sahutku cepat dengan dada membusung. Cowok mana yang tidak berbangga hati bila diminta bantuannya oleh seorang cewek yang amat dicintainya. "Bantuan apa?"
"Banyak. Misalnya membagikan undangan, menghias ruangan. Pokoknya kayak seksi repot begitu, deh!"
"Kalau itu mah kecil. Kebetulan aku sering mendekor ruangan pesta di kompleks rumah aku."
Tiara tersenyum. Manis banget. Aku menneguk ludah. Kalau saja aku punya keberanian, sudah kucium pipinya itu.
"Bayangkan, Jok! Tiara memintaku untuk terlibat di pesta ulangtahunnya minggu depan," ucapku semangat begitu Joko duduk di sampingku.
"Memangnya di pesta Tiara nanti ada badutnya?"
"Apa hubungannya keterlibatanku di pesta ulang tahun Tiara sama badut?"
"Bukannya Tiara meminta kamu jadi badut?"
"Bukan, Setan!"
"Lantas?"
"Tiara memintaku membagikan undangan dan mendekor ruangan pestanya."
"Dan kamu bangga dengan permintaannya itu?"
"Tentu saja. Berarti Tiara membutuhkan aku."
Joko terbahak. Aku menatapnya jengkel. Karena kupikir tak ada yang lucu dan pantas untuk ditertawakan.
"Apanya yang lucu?"
"Kamu itu, sudah dibodohin, bangga lagi. Dia itu cuma mau manfaatin tenaga kamu. Kirain dia meminta kamu jadi pendampingnya."
Aku mencibir. Dasar Joko sirik dengan rezekiku. Soalnya aku tahu, kalau dia juga ada hati sama Tiara. Coba kalau dia yang dimintai tolong sama Tiara, pasti dia juga nggak nolak.
"Cemburu?"
"Cemburu sama kamu?" Mendelik mata Joko. "Yang benar saja. Tiara itu bukan level kita. Kamu saja yang nggak tahu diri dan mau dibodohi sama dia."
***
Di pesta ulang tahun Tiara. Aku duduk kecapekan di teras belakang rumah. Nafasku ngos-ngosan. Aku memang capek luar biasa. Dari pagi sampai tadi kerja terus. Nggak ada istirahatnya. Semua memang aku kebut sendirian. Dari mengangkati sofa-sofa ke luar ruangan, mendekor ruangan, sampai mengambil pesanan kue ulangtahun. Aku babat sendirian.
Meski letihnya setengah mati, aku cukup senang bisa membahagiakan Tiara. Setidaknya Tiara jadi tahu kalau aku ini bisa diandalkan. Aku tersenyum bangga. Segera aku bangkit. Kudengar suara-suara dari ruang depan. Tamu-tamu sudah datang rupanya. Aku harus segera mandi dan tampil maksimal. Biar sebanding kalau nantinya berdiri di samping Tiara saat pemotongan kue.
Untung aku bawa baju dan peralatan mandi. Aku mandi di kamar mandi pembantu. Kedua pipiku kusabuni sampai benar-benar kinclong. Barangkali saja nanti dapat jatah ciuman dari Tiara..
Sehabis mandi, aku dandan sebentar. Memakai jas kawin Ayahku dulu yang kuambil diam-diam. Sekalian juga memakai dasi kupu-kupu yang kupinjam dari Mas Seno, tetanggaku. Kusisir rambutku yang keriting. Biar nggak terlihat seperti sarang tawon. Setelah semuanya cukup pantas, aku masuk ke ruangan tengah yang telah kusulap menjadi arena pesta.
Aku berjalan dengan dada membusung dan wajah terangkat. Kulepas senyum ke segala arah dan sudut. Kurasakan seluruh mata tertuju padaku. Andai aku selebritis, pastinya kilatan blitz akan mengarah padaku saja.
Kudekati Tiara yang tengah berbincang dengan Lia. Duh, aku terpesona melihatnya. Dia terlihat seperti bidadari dengan balutan gaun berwarna biru muda begitu. Bahunya yang terbuka terlihat sangat mulus dan kinclong.
"Beth, bisa tolong aku?"
"Apa yang nggak bisa aku bantu buat kamu. Robert gitu, loh!"
Tiara tersenyum senang. "Tolong dong, aturin kendaraan di luar. Katanya semrawut. Jadi susah parkirnya. Sekalian kamu jaga juga. Biar nggak ada yang hilang."
"Oke. Itu sih kecil."
"Kamu baik, deh!" Tiara menowel pipi kananku. Aku terkaget karenanya.
Aku keluar. Memang benar mobil parkir semrawut. Ada yang melintang kanan, ada yang melintang kiri. Waduh, baru belajar setir mobil barangkali semuanya. Parkir saja tidak becus.
"Woi, dekorator merangkap jadi tukang parkir juga?"
Aku menoleh. Joko tertawa terbahak melihatku. Aku mencibir jelek.
"Ngapain kamu datang? Memangnya diundang?"
Tanpa menjawab Joko mengacungkan undangan di tangannya.
"Bawa kado nggak? Kalau nggak, nggak boleh masuk."
"Tuh ada yang mau parkir."
Aku menoleh. Mobil sedan mulus terlihat masuk. Aku berlari menyongsong. Joko tertawa-tawa masuk ke dalam.
"Kiri! Kiri! Terus! Ya, hop!"
Seorang pria keluar dari dalam mobil.
"Lama benar datangnya, Mas! Parkiran sudah semrawut, nih."
Matanya memicing menatapku. "Apa hubungannya parkiran sama aku?"
"Bukannya Mas satpam di rumah ini?"
"Enak saja. Aku ini pilot. Bukan satpam. Baca nih. Nggak pernah naik pesawat, ya?! Kasihan deh, lu!"
Aku garuk kepala. Eh, benar juga. Sial deh. Kirain satpam. Seragamnya mirip sih.
"Maaf deh, Mas."
"Kerja yang benar. Jaga mobil aku. Awas kalau sampai lecet."
"Iya...."
Dia berlalu. Gagah nian gayanya. Kulihat ia membawa seikat bunga.
Kudengar lagu selamat ulangtahun mengalun dari dalam. Aku harus ada di samping Tiara, nih. Segera aku masuk. Kulihat si Pilot tadi berdiri di samping Tiara. Ia membantu Tiara memotong tart tiga tingkat itu. Tiara memberikan potongan itu padanya. Baru sekali para undangan meneriakkan kata cium, si Pilot itu sudah mencaplok bibir Tiara. Anehnya Tiara cuma ketawa saja.
Dadaku terbakar melihatnya.
"Teman-teman, ini namanya Mas Teguh. Pacar Tiara. Tiara sangat bahagia, meski sangat sibuk, Mas Teguh masih menyempatkan diri untuk datang ke pesta ini."
Aku terperanjat. Pria itu pacarnya? Jadi....selama ini Tiara menganggapku apa?
Kaki kuhentak kesal. Aku berbalik.
"Beth, mau kemana?" Joko mengejarku.
"Pulang!" sahutku ketus.
Di parkiran kulihat mobil mulus tadi. Aku tersenyum licik. Kukempeskan seluruh ban mobil itu. Biarin deh. Nggak berani mengempeskan orangnya, mobilnya juga jadi.
Joko cuma angkat bahu. Lantas ia berbalik kembali masuk ke ruangan.
"Jok, tega kamu ya...."
Matanya memicing.
"Teman lagi sedih, malah kamu tinggalkan begitu saja."
Joko terbahak. "Aku juga bilang apa? Kamu yang kege-eran. Jadi pulang saja sendiri. Gila aja aku tinggalkan makanan-makanan enak di dalam."
Aku terdiam. Lunglai aku melangkah pulang. Tiba-tiba perutku terasa perih, baru terasa laparnya sekarang. Terbayang makanan-makanan enak di ruang pesta tadi. Liurku berlomba keluar. Kebimbangan menyergap. Terus pulang atau berbalik.
Akhirnya aku berbalik. Seperti kata Joko. Gila aja meninggalkan makanan-makanan enak. Nggak dapat orangnya, dapat makanannya juga jadi. Akan aku habiskan semuanya. Biar si Pilot itu nggak dapat apa-apa. Biar perutnya kempes mirip ban mobilnya. Hahahaha.... ©

Hujan Masih Menari

Dayani melempar pandang keluar. Gadis itu mencoba menikmati jarum-jarum hujan yang terjatuh dan menikam bunga-bunga yang tumbuh di halaman. Terkadang hujan-hujan itu tidak jatuh lurus karena angin yang bertiup kencang. Hujan itu seperti menari. Dan bunga-bunga ikut menari. Seirama dengan tarian hujan.
Dayani menghela nafas. Kedua tangan berpeluk di dada. Ia sangat suka hujan. Hujan di sini, mengingatkan ia akan hujan di rumah.
Di rumah, setiap hujan, ia selalu berdiri di depan jendela kamar. Menikmati hujan yang menari di luar. Entahlah, hujan selalu mendatangkan kedamaian baginya. Terkadang, saat hujan seperti itu imajinasinya juga jadi berkembang liar.
Ia membayangkan, betapa romantisnya jika ia ikut menari bersama hujan. Tidak sendirian. Juga ada lelaki yang menemani. Mereka menari bersama. Bersama hujan. Di bawah hujan. Hujan yang menari.
Atau terkadang ia membayangkan, saat hujan menari, ia sedang bersama seorang lelaki dalam sebuah ruangan. Ruangan kecil saja. Hanya berdua. Sambil berpelukan mereka akan menatap hujan. Hujan yang menari. Lelah menatap hujan, ia akan menyandarkan kepala di bahu sang lelaki. Lelaki yang berbahu kokoh tentu saja.
Iseng tangannya akan merambah pada jurang yang ada di dada sang lelaki. Pada jurang itu harus tumbuh rumput liar. Boleh meranggas atau tersusun rapi. Terserah saja. Dayani menyukai keduanya.
Setelahnya mereka akan terbakar. Terbakar oleh nafsu dan hasrat. Mereka bergumul. Melepas dan dilepas. Menghujam dan dihujam. Mereka menari. Untuk menuntaskan semuanya.
Petir menyambar. Dayani tersentak. Tapi bukan karena suara petir itu. Ia tersentak karena sebuah tangan mendarat pada bahunya.
"Ada apa, Sayang?"
Dayani menoleh. Lantas tersenyum lembut dan menggeleng.
"Kau masih memikirkan telepon dari ayahmu?"
"Tidak."
"Lantas?"
"Aku sedang menikmati hujan."
"Terkadang aku lupa, kau seorang penikmat hujan."
"Hujan ini mengingatkan aku tentang hujan di rumah."
"Kau akan pulang?"
"Tidak."
"Pulanglah."
"Apakah harus?"
"Ayahmu merindukanmu. Ia ingin bertemu. Mungkin yang terakhir."
"Dulu ia mengusirku."
"Sudah ia sesali."
"Aku terlanjur sakit hati."
"Maafkan ia."
"Tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa?"
Dayani menghela nafas. Membuang pandang pada bunga-bunga dan hujan yang masih menari, di luar. Tidak bisa ia jawab tanya itu. Karena sesungguhnya ia bukan hanya sakit hati. Ia juga kecewa, Ayah tidak mau menerima dia sebagai anak lengkap dengan segala kekurangannya. Hanya satu hal yang Dayani inginkan dari Ayah. Biarkan Dayani menjadi sosok yang Dayani inginkan.
Impiannya semasa remaja menjadi nyata sekarang. Sudah ia temukan lelaki itu. Lelaki yang mau menari bersamanya. Tidak saja di bawah hujan atau di dalam sebuah ruangan kecil. Tetapi lelaki itu juga berkenan memberi segala padanya.
Lelaki itu berada di sampingnya sekarang.
Rafael.
***
Dulu sekali. Beberapa tahun yang lampau.
Baru saja Dayanii membuka pintu depan, Ayah berdiri di hadapannya. Wajah Ayah menegang. Nafasnya tidak teratur. Tangan kanan Ayah terangkat, mengacungkan banyak DVD dan beberapa buah majalah yang tak pantas dikomsumsi.
"Apa ini?"
"Ayah tidak berhak masuk ke kamarku dan mengobrak-abrik barang pribadiku."
"Jadi ini barang pribadimu?"
"Tentu saja. Semua yang berada di kamarku, adalah barang pribadiku."
"Anak edan kau!" Ayah mengumpat. Muka Ayah memerah. Bibirnya sampai bergetar karena emosi.
Mereka bertengkar. Adu mulut. Ibu hanya bisa menangis. Di sofa sudut. Mungkin Ibu merasa berdosa, gagal dan tidak berharga. Ibu hanya bisa melahirkan satu anak. Tapi tidak bisa menjaga juga mengawasi.
Ayah mengusirnya. Malu punya anak seperti Dayani. Ia haramkan Dayani. Selamanya. Sampai ke liang kubur.
Sedang Ibu hanya menatap dengan aliran sungai deras di pipinya yang mengeriput. Di ambang pintu, Dayani menatap Ibu. Lama mereka bertatapan. Meski tanpa kata Dayani mengerti. Ibu menyalahkan Dayani, tapi Ibu juga ingin Dayani bertahan di rumah.
Dayani pergi. Tanpa pamit pada Ibu.
***
Telepon di malam hari. Saat sepi tengah merayap. Rafael terbangun. Di sampingnya Dayani lelap. Dengkurannya halus mampir di telinga Rafael.
Rafael keluar dari kamar untuk mengangkat telepon yang berdering itu. Hatinya bergetar. Dering telepon di waktu yang tidak wajar membuat pikiran tidak tenang.
"Halo!"
"Selamat malam! Bisa bicara dengan Rafael?" Suara dari seberang sangat jauh, bergetar.
"Saya sendiri."
"Saya Bustaman. Ayah Dayani."
Dada Rafael bergetar. Nama itu sudah akrab di telinganya. Dulu, kerap Dayani menyebut nama itu.
"Bapak mau bicara sama Dayani?"
"Oh, tidak! Tidak! Bapak ingin bicara sama kamu."
"Tentang?"
"Bapak sudah tahu semuanya. Bapak dengar dari sepupu Dayani."
"Maafkan saya, Pak!"
Suara dari seberang tertawa. Meski kering, tapi Rafael tahu tawa itu tulus.
"Kau mencintai Dayani?"
"Sangat."
"Bahagiakan dia."
"Semampu saya, Pak."
Helaan nafas di seberang terdengar berat. Mungkin pengaruh dari penyakitnya.
"Tolong, bujuk dia untuk pulang. Menjenguk saya. Sesaat saja."
"Akan saya usahakan."
"Sampaikan permintaan maaf saya. Saya sesali semuanya. Saya terlalu egois. Semua yang terjadi padanya, karena kesalahan saya. Saya terlalu keras padanya."
"Bapak jangan merasa bersalah. Itulah takdirnya. Jalan yang ia kehendaki."
"Sesungguhnya saya mencintainya."
"Saya tahu."
"Saya merindukannya. Lebih sepuluh tahun."
"Akan saya bujuk dia untuk pulang."
"Bapak mohon kau mengerti. Dayani anak Bapak satu-satunya. Tidak mudah menerima semua itu dengan dada lapang. Tapi sekarang, Bapak sudah menerima semuanya."
"Saya mengerti, Pak!"
"Syukurlah."
"Sebaiknya, Bapak bicara saja sama Dayani. Akan saya bangunkan dia."
"Tidak usah. Bapak tidak mau mengganggu tidurnya. Sampaikan saja pesan Bapak."
"Baiklah."
Percakapan berakhir. Telepon ditutup. Ia senang bisa berbicara dengan lelaki itu. Amanat yang dia beri amat mudah untuk Rafael laksanakan.
Pagi-pagi sekali. Rafael menyiapkan sarapan di atas meja. Segelas kopi dan setangkup roti bakar, khusus untuk Dayani.
Dayani keluar dari kamar. Rambut acakan. Wajah kuyu. Tapi sangat menarik di mata Rafael.
"Duduklah. Aku sudah siapkan sarapan untukmu."
"Terima kasih."
"Tadi malam ayahmu menelepon aku. Dia ingin kau pulang."
"Aku tidak akan pulang."
"Mungkin itu permintaan terakhirnya."
"Aku tidak perduli."
"Jangan begitu. Dia ayahmu."
Dayani menggeleng tegas.
Rafael menarik napas kecewa.
***
"Aku akan pulang."
Itu ucapan Dayani. Sehabis mereka menari. Peluh masih bercucur di tubuh. Belum ada waktu untuk menghapus. Mereka terlentang di atas ranjang. Bersisian. Tanpa busana. Sepolos bayi suci.
"Memang itu seharusnya," sahut Rafael tanpa menatap. Tanpa sentuhan. Ia senang mendengar.
"Meski saat pergi dari rumah, sudah kusumpahkan tidak akan pernah pulang. Tanpa nyawa sekalipun."
"Sumpah bukan takdir."
"Aku pulang karena kau minta. Aku mencintaimu. Kulakukan semua yang kau ingin. Selagi aku mampu."
"Kapan kau pergi?"
"Secepatnya."
Rafael tersenyum.
Dayani tersenyum.
Lagi, mereka lepas malam dengan menari. Sepanjang malam. Tanpa hujan menari di luar.
***
"Salam untuk Ayah dan Ibu. Maaf aku tidak bisa ikut. Terlalu sibuk. Bilang juga pada Ayah, aku selalu berdoa. Semoga Ayah cepat sembuh."
"Akan kusampaikan."
"Telepon aku sesampai di sana."
"Pasti."
"Pulsa akan aku isi."
"Terima kasih."
"Berapa lama kau di sana?"
"Entahlah. Tergantung suasana."
"Cepatlah kembali. Aku membutuhkanmu di sini."
Dayani tersenyum.
"Kasih kabar kalau akan pulang. Biar kujemput di bandara."
Dayani mengangguk.
Mereka berpeluk. Erat. Sekilas Rafael mencium pipi Dayani. Berat untuk melepas. Tapi harus. Bukan selamanya. Akan bertemu kembali.
"Pergilah."
Dayani masuk. Menjinjing sebuah tas kecil. Rafael berdiri di situ. Tidak beranjak sebelum ia lihat si burung besi membawa separuh jiwa dan nafasnya. Bersama Dayani.
Sebelum masuk ke mobil, Rafael mendongak ke atas. Menatap si burung besi. Ia tersenyum. Ia sudah merindu.
***
Lagi, Rafael coba menghubungi. Tidak aktif. Selalu saja. Dayani pasti sudah sampai di rumah. Ia hanya ingin menanya kabar. Selain melepas rindu.
Rafael kesal. Ia letakkan HP. Ia hidupkan televisi, meski di luar hujan menari dengan cepat.
"Pesawat X dengan nomor penerbangan Y, rute A menuju B kehilangan kontak saat berada di sekitar lautan Z. Pesawat yang membawa penumpang 124 beserta 8 awak ini bertolak dari A jam 14.30 WIB dan dijadwalkan tiba di B sekitar dua jam kemudian. Namun sampai malam ini...."
Rafael hanya bisa diam. Diam dan diam.
Di luar, hujan tetap menari. Meski tanpa kedua insan itu. ©

Catatan Puisi Dari Seorang Sahabat

 * APA ITU CINTA ??? *
 
Mereka yang tidak menyukai'y menyebut'y tanggung jawab,
Mereka yang bermain dengan'y, menyebut'y sebuah permainan,
Mereka yang tidak memiliki'y, menyebut'y sebuah impian,
Mereka yang mencintai, menyebut'y takdir.
Kadang AALLAH SWT yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk menguji Qt. Kadang Ia pun meLukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam daLam.
Jika Qt kehiLangan Cinta, maka pasti ada aLasan di baLik'y.
aLasan yang kadang sulit untuk d'mengerti, namun Qt tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia teLah siap memberi yang Lebih baik.

Mengapa menunggu?

Karena waLaupun Qt ingin mengambiL keputusan, Qt tidak ingin tergesa-gesa.
Karena waLaupun Qt ingin cepat-cepat, Qt tidak ingin sembrono.
Karena waLaupun Qt ingin segera menemukan orang yang Qt cintai, Qttidak ingin kehiLangan jati diri Qt daLam proses pencarian itu.
Jika ingin berlari, beLajar'Llah berjaLan dahuLu,
Jika ingin berenang, beLajar'Lah mengapung dahuLu,
Jika ingin d'cintai, beLajar'Lah mencintai dahuLu.

Pada akhir'y, Lebih baik menunggu orang yang Qt inginkan, ketimbang memiLih apa yang ada.
Tetap Lebih baik menunggu orang yang Qt cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
Tetap Lebih baik menunggu orang yang tepat, Karena hidup ini terlampau singkat untuk d'Lewat'kan bersama piLihan yang saLah, karena menunggu mempunyai tujuan yang muLia dan misterius.
perLu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar daLam waktu semaLam,
Kota Roma tidak dibangun daLam sehari,
Kehidupan d'rajut daLam rahim seLama sembiLan buLan,
Cinta yang Agung terus bertumbuh seLama kehidupan.
Kebanyakan haL yang indah daLam hidup memerLukan waktu yang Lama, Dan penantian Qt tidak'Lah sia-sia.
waLaupun menunggu membutuhkan banyak haL– iman, keberanian, dan pengharapan – penantian menjanjikan satu haL yang tidak dapat seorang pun bayangkan.
Pada akhir'y. ALLLAH SWT daLam segaLa hikmat-Nya, meminta Qt menunggu, karena aLasan yang penting !!!

* Seperti itu'Lah yg sekarang aku Lakukan kepadamu 051209 !!! *
 
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* AIR MATA *
 
Jika aku adaLah air mata
Aku ingin Lahir dari mata indahmu
Hidup bahagia d'Lembut'y pipimu
Dan berakhir manis d'bibir tipismu

Tapi jika engkau adaLah air mata
Aku tak'kan pernah sekaLipun menangis
Karena aku tak ingin kehiLangan dirimu
BiarLah tetap indah d'mataku

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* KENYATAAN YANG AKU RASAKAN *

Terdiam sesaat seteLah tw smua yg sebenar'y,
tak tw harus bagaimana tuk Langkahkan kaki ini,,
apa yg sebenar'y aku Lakukan dan apa yg harus ku perbuat sekarang ?

jiwa ini bergejoLak ingin menebas smua yg menghaLangi,
namun apa mampu aku Lakukan itu smua ??
tak'kan pernah ada yg mampu menahan smua apa yg ku rasakan...

smua meLarangku menangis, hatiku tak boLeh menjerit
Tapi mereka tertawa, bukan'y memapah jiwaku yg Lemah
Tak ada Lagi singa dan serigaLa d'daLam jiwaku kini
Kumohon toLong berhentiLah menertawakan kepergian'y !

Aku hanya ingin kau tw, bukan menertawakanku
Jika tak bisa kau berikan aku empatimu
Jika tak bisa kujadikan engkau penguatku,,
Kumohon berikan aku ruang sunyi untuk mendamaikan diri
tuk menanti'y datang kembali,,!!

Jika saLahku sudah tak bisa kau Maafkan,
dan tak ada Lagi ruang daLam hatimu ...
namun dengarkan'Lah jert hati ini ...

Karena smua haL yg seLaLu aku berikan untukmu,
itu semua demi KEBAIKKAN Dirimu... tak Lebih ...
aku tak' pernah menjerumuskan orang yg aku sayang dan cnta k'daLam jurang KEBUSUKAN !!!

BENCI'Lah aku sesukamu,
HINA'Lah aku dengan Keadaanku,,
Aku akan terima smua itu karena MeMang Begtu ada'y !!!

Tangisan Jiwa daLam Hati,
jeritan Hati daLam Raga tak'kan Kurasa'kan Meski perih mengiris !!!
kan ku korbankan smua'y demi kebaikkan dirimu !!!

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* BERDUA LEBIH BAIK*

Menatap padang meLuas,
berdiri seorang,
tiada siapa temani

Susuri jaLan panjang,
hingga temui Lembah curam
Tetap sendiri
Susah payah
Lewati'y
Hingga raga
bermandi peLuh

Inginku,
daLam susah, daLam senang
bisa LaLui bersama
Sosok yang bisa beri makna
bersama nikmati masa suka,
dukung aku d'saat duka

Tahukah kau ?
ALLAH teLah ciptakan semua dengan pasangan'y ??
ingatkah kau?
LeLah rasa'y jaLani semua sendiri

Ingin aku Lewati Lembah hidup
yang tampak indah
Berdua denganmu,
pasti Lebih baik
Aku yakin itu
karena sendiri hati
bagai Langit b'seLimut kabut

Kasihku,
Inginku kau ada disini,
temaniku arungi hidup.
Hawamu kuyakin kan kuatkan jiwaku.
Berdua denganmu pasti kan Lebih baik,
Kau Laksana air di padang pasir,
bagiku.

Perempuanku
Biarkan aku d'sini untukmu,
Ku hanya ingin hibur kau maLam ini
maLam yang pasti menyenangkan
untukmu dan untuk diriku
Namun,
Ku jua sadar
Tak mudah gapai asaku
Bersama denganmu
smua tetap harus ku jaLani
daLam kesendirian

Lihat kawan d'sana
b'arak mengikutiku pasti dia pun tahu
Namun harus ku jaLani
Berdua denganmu, pasti Lebih baik
Aku yakin itu
biLa sendiri hati bagai Langit berselimut kabut !!!

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* Apa Ini Yang AKu Rasakan ??? *

Tak dapat memiliki seLama'y mungkin itu semua hanya untuk aku
mengapa seLaLu semua itu terasa jauh untuk aku
yang tak ada satupun yang dapat aku genggam,
sekaLi aku menggenggam'y semua itu suLit untuk aku …….
tak tahu apa yang harus aku Lakukan untuk meLawan takdir ini.
tak ada sesuatu yang aku butuhkan yang bisa bersama aku.
hanya dengan tuLisan ini aku bisa meLegakan diriku ………
konyoL,bodoh tak pernah aku tahu, arti semua ini .
jika semua ini hanyaLah akan menjadi kenangan yang t'amat pahit untuk aku ………
apakah yang terbaik untuk aku………
mungkin hanya dia tapi banyak penghaLang yang dia pun tak kan bisa menyangga aku disaat ku terjatuh !!!

ALLAH jika memang ini rencanamu ijinkan aku merasakan semua itu ……….
apakah menunggu jawaban kepastian itu ada untuk aku d'sini ……….
apakah cerita yang hanya tabu ……..
bagi smua yang meLihat……..
seLaLu berharap ini hati akan seLaLu hidup dan tak akan ada Lagi kisah yang aku jaLani tanpa mu……
aku sadar dari apa yang aku jaLani dan itu resiko yang harus aku tanggung sendiri tak tahu harus bagaimana aku menyikapi diriku !!

Semuanya Menjadi Tak Berarti Saat Semua itu Menguasai Pikiran !!!

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* Bukan'kah kaLian juga Punya Rasa ??? *

Wahai Sahabat" ku...
Dengar'Lah bisikan kata" ku ini.
TuLis'Lah wahai Sahabat" ku ...
TuLis'Lah madah cinta mu,
TuLis'Lah puisi cinta mu,,
TuLis'Lah apa yang terLintas d'hati mu,
Rasakan getaran suara hati naLuri mu,,
Biarkan ia bersuara menjerit
Biarkan s'isi dunia mendengarkan Luapan'y ...
Luapan rasa hati seorang manusia,
Wahai Sahabat ku...!
Jangan engkau berdiam diri
Jangan engkau hanya menjenguk d'sana sini
Komentar sana komentar sini !!

Bukankah kaLian juga mempunyai rasa hati ...?
Sedikit naLuri untuk berpuisi ...??
Wahai Sahabat ku...Percaya'Lah bahwa Qt cuma insan biasa,
coba menerka rahasia kehidupan
sama" juga ada kekurangan
sama" ada sedikit kepahitan
d'daLam merenangi Lautan madah cinta ini
coba membongkar rahasia hakikat puisi cinta !!!

Luapkan semua rasa yang ada jangan biarkan semua itu hiLang terhapus waktu,
pasti akan ada beLenggu yang seLama'y kan terasa ...
biarkan semua itu mengaLir seperti air yang mengaLir sampai Lautan bebas ...

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* KESEDIHANKU !!! *

mungkin tak ada arti'y tetesan air mataku d'antara aLiran sungai ini
matahari senja seoLah sendu menampak'kan cahaya'y d'depan sedihku..
sapuan angin membeLai Lembut wajahku yang menambah sedihku..
saLahkah aku yang inginkan sedikit kasih syang d'antara sejuta sedihku ?
saLahku aku yang inginkan dirimu seutuh'y ??
hingga ku tak sanggup menahan semua sakit ini..
tak ada kejutan Lagi d'baLik impian bahagia..
apa takdirku memang harus begini ???
apa aku harus merintih d'antara kejam'y dunia ????
yang tak pernah memandang arti dari semua pengorbananku !!
apa ini tak cukup bagimu..
apa ini terLaLu hina untukmu
ku berusaha berjaLan d'atas reLung kehancuran yang kian menggerogoti nyawa ku..
kau tak pernah menganggap kehadiran rasaku
kau tak pernah mw mengerti ..........
hingga tangis iringi kepergianku tuk seLama-Lama'y !!!

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* BUKAN KU TAK SUDI *

Ku anggapkan semaLam
Satu kenangan yang suram
biLa cinta Qt
putus d'jaLan

Ku harapkan impian
menjadi kenyataan
namun aku kecewa

Mudah'y waktu meLafazkan janji
Engkau dan aku berdua serupa
Rupa'y mentari daLam mainan percintaan

TeLah pun ku bentangkan segaLa'y
Mencari entah d'mana siLap'y
jeLas asmara kecundang jua

Bukan ku tak sudi kasih
Untuk bersamamu bercinta Lagi
Karena Qt tw apa sebab'y !!!

* bersinar'Lah hakikat , debu jd permata ,, hina jadi muLia !!! *
sebeLum terLambat !!!!.

(semua puisi dibuat oleh: HanOy Milanisti)

Minggu, 06 Juni 2010

Putihnya Hati Putri

Satpam berkumis runcing itu menatapnya lekat, dari atas kepala hingga kaki. Lalu beralih lagi pada wajahnya. "Kamu siapa?"
"Wawan, Pak. Teman sekolahnya."
"Sudah buat janji?"
"Belum."
"Kalau begitu tidak bisa. Non Putri sedang tidur siang. Nanti saja kembali lagi. Sorean dikit, atau malam. Atau buat janji lebih dulu," ujarnya dingin. Sedingin udara lembab sehabis hujan.
"Tapi, Pak...."
Satpam yang di bajunya tertulis besar-besar nama SAMURI itu menggeleng tegas. Membungkam kata yang akan terucap dari bibir Wawan.
"Saya harus ketemu sekarang, Pak. Ada hal penting yang akan saya bicarakan."
"Kamu mengerti bahasa Indonesia tidak?" ketus suaranya.
"Tolong saya, Pak. Atau biarkan saya saja yang membangunkan Putri."
Satpam itu menatapnya tajam. Lalu tanpa kata dia tinggalkan Wawan, kembali duduk di pos. Kini matanya tertancap pada tivi 14 inch di depannya.
Wawan mendegut ludah. Tangannya berpegang erat pada terali besi pagar. Tubuhnya mulai menggigil. Akibat tersiram hujan lebat. Sebelum meninggalkan rumah, memang mendung telah menggayut. Tapi Wawan tidak peduli. Kesehatan Ibu lebih penting daripada sekadar hujan. Akibat tak ada ongkos, terpaksa ia menempuh jarak sejauh empat kilometer dengan kaki.
Di tengah perjalan hujan deras mengguyur. Begitu sampai di depan rumah Putri, hujan telah reda. Hanya meninggalkan angin lembab dan basah.
Kepala Wawan mendongak. Jendela paling ujung di lantai dua itulah kamar Putri. Mudah-mudahan saja Putri melihatnya berdiri di sini.
Semenit, dua menit, tiga menit. Tak ada wajah yang terlihat pada jendela itu. Wawan menurunkan wajah, beralih pada satpam yang terlihat merem-melek menikmati suguhan musik dangdut di tivi.
"Pak!"
Tak ada reaksi. Wawan memanggil lebih keras.
Satpam itu bergerak. Menoleh pada Wawan. "Belum pergi juga?"
Barangkali Putri sudah bangun, Pak! Bisa tolong...."
"Susah bicara sama orang dungu macam kamu. Dijelaskan nggak bakal mengerti."
Wawan mendegut ludah. Kalau tidak mengingat kondisi ibu yang makin kritis, sudah sedari tadi dia meninggalkan satpam sok jago dan tak punya perasaan itu.
Wawan terlonjak melihat ada bayangan pada jendela kamar Putri yang hanya tertutup tirai tipis itu.
"Put! Putri!" teriaknya sekuat suara.
"Hei, apa-apaan kamu!"
"Putri!!!" panggil Wawan dengan membuat kedua tangannya seperti corong di mulut, agar suara yang keluar lebih keras.
Tirai tipis pada jendela bergerak. Terlihat wajah Putri di sana. Tangan Wawan melambai.
Putri tersenyum. Lantas wajahnya menghilang. Pasti dia sedang turun ke bawah.

***
Tanpa suara Putri berlari ke dalam mobilnya. Matanya berkaca-kaca. Seumur hidup belum pernah ia dihina orang seperti ini.
"Kamu kenapa, Wan?"
"Tadi kehujanan. Jadi...."
"Kenapa tidak masuk?"
"Nggak diizinin sama satpam kamu," sahut Wawan melirik satpam berkumis runcing-runcing yang berdiri salah tingkah itu.
"Kenapa nggak dikasih masuk, Pak?"
"Atas pesan Nyonya, tidak sembarangan tamu bisa masuk."
"Wawan ini teman saya."
"Tapi...."
"Sudah. Cepat buka pintunya."
Tanpa protes lagi satpam itu membuka pintu pagar.
"Masuk, Wan!"
"Nggak usah, Put. Aku hanya perlu sebentar."
"Kita bicara di teras saja."
Ragu Wawan mengikuti langkah Putri.
"Kamu ada masalah?" tanya Putri pelan.
"Penyakit ibuku kambuh lagi."
"Sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Putri khawatir.
"Itulah makanya aku datang ke mari," sahut Wawan pelan. "Aku... nggak ada biaya."
"Ya ampun, Wawan! Kamu bagaimana, sih? Kenapa nggak bilang dari tadi?"
Seperti biasa Putri mengambil sedikit uang dari tumpukan uang dari lemari pakaiannya. Bahkan kali ini Putri berbaik hati membawa Ibu Wawan ke rumah sakit.
***
"Temani aku beli buku."
"Aku nggak bisa."
"Lagi?"
Wawan mengelak dari tatapan Tia. "Mengertilah," desisnya pelan.
"Berapa lama lagi aku ngertiin kamu? Sementara kamu tak pernah menjelaskan ada apa sebenarnya."
"Tak ada apa-apa. Aku hanya sibuk. Jadi tak ada waktu."
"Kesibukan apa hingga kamu selalu tak punya waktu?"
"Tolong, jangan desak aku."
"Aku akan terus bertanya sampai kamu jelaskan semuanya padaku."
"Kamu memaksa?" suara Wawan mulai tidak enak.
"Aku punya hak untuk itu!"
Wawan menarik napas. Menatap gadis yang duduk di sampingnya. Tia pacarnya. Hampir setahun mereka menjalin cinta. Mereka berbeda sekolah, tapi masih bertetangga. Tia sama dengannya. Sama-sama berasal dari keluarga kurang mampu.
"Aku sibuk, Tia. Harus ngerjain PR, beresin rumah, masak buat ibu. Kondisi Ibu kurang fit. Jadi harus aku yang mengerjakan semuanya," ujar Wawan dengan kepala menunduk.
"Perlu bantuan?" suara Tia melunak.
"Nggak usah. Aku bisa kerjakan sendiri."
Diam-diam Wawan menarik napas lega. Andai saja Tia tahu kalau dia tengah berbohong. Tak ada PR yang harus ia kerjakan. Ia juga tidak harus membersihkan dan memasak buat ibu karena semuanya sudah dikerjakan ibu. Malah ibu sudah mulai berjualan sayuran di pasar. Mulai hari ini dan seterusnya ia harus menjaga jarak dengan Tia. Jika Wawan merasa waktunya sudah tepat, ia akan memutuskan tali cintanya.
Bukan karena ia tidak lagi mencintai Tia. Tapi ada hal lain yang harus dia kedepankan ketimbang urusan itu.
***
"Capek?"
Gadis berkulit putih itu menggeleng. Peluh mulai bermunculan di sekitar dahinya yang mulus.
"Biar aku saja yang menyelesaikan. Jangan terlalu kamu paksakan."
"Tinggal sedikit lagi, kok."
Wawan membantu Putri mengatur letak kursi-kursi itu. Akan ada seminar 'Bahaya Narkoba bagi Remaja' di sekolah mereka. Kebetulan mereka berdua masuk sebagai anggota seksi repot.
"Sudah, istirahat saja, Put."
"Aduh, Wan. Jangan kuatir begitu, ah. Kesannya kamu ngeremehin aku."
"Tapi kamu nggak biasa kerja beginian."
"Mulai hari ini aku harus biasakan. Siapa tahu dapat jodoh...."
Wawan mengerti arah ucapan Putri. Makanya ia biarkan Putri ikut mengatur tata letak kursi itu. Bahkan ia hanya geleng kepala melihat Putri menyapu halaman aula sekolah. Bagi Wawan tidak sulit melakuan semua itu. Tapi tidak bagi seorang Putri. Putri anak konglomerat. Pembantu di rumahnya saja mungkin ada lusinan.
Wawan menghela napas panjang. Ia tahu untuk apa Putri mau bersusah payah begitu. Ia juga tahu apa yang harus ia lakukan agar Putri tidak kecewa. Karena Putri teramat berjasa baginya, juga ibunya.
"Besok sore kamu datang, kan?"
"Pasti, dong! Aku kan panitia juga. Lagipula sangat penting bagi remaja seperti kita untuk mengetahui apa saja efek negatif yang ditimbulkan narkoba. Memangnya kenapa?"
"Tunggu aku di rumah. Aku akan jemput kamu."
"Nggak usah, Put. Aku naik angkot saja."
"Jangan menolak kebaikan orang. Lagian, aku senang bisa nolong kamu."
Wawan diam. Di kepalanya muncul Tia. Bisa berabe kalau Tia melihat Putri.
***
"Kata Ibu, tadi kamu datang ke rumah."
Tia tersenyum, lantas mengangguk. Ia ajak Wawan duduk di teras rumahnya.
"Ada apa?"
"Besok sore teman sekolahku ada yang ulangtahun. Aku mau ngajak kamu."
Wawan mendegut ludah. Perubahan wajahnya membuat perasaan Tia tidak nyaman.
"Besok sore ada acara di sekolah."
"Kamu nggak bisa?"
Wawan mengangguk. "Maaf!"
"Akhir-akhir ini perasaan aku nggak enak, Wan. Sikap kamu lain sama aku. Kamu seperti menghindar dan menjaga jarak."
"Benar aku ada acara di sekolah. Seminar tentang narkoba. Aku termasuk salah seorang panitia. Jadi nggak mungkin aku nggak datang."
"Bukan cuma kali ini. Tapi selalu kamu menolak ajakanku. Bahkan kamu nggak pernah lagi datang kemari."
"Aku...."
"Ada orang ketiga?'
"Maksudmu?"
"Kamu punya cewek lain?"
"Kamu menuduhku selingkuh?"
"Sikapmu menjurus ke arah itu."
Walau berat, Wawan menghela napas panjang. Belum saatnya. Yah, belum saatnya ia bicara jujur kalau dalam hidupnya memang ada cewek lain. Wawan tidak mau Tia terluka. Terlebih lagi, perasaannya pada Tia tidak pernah berubah meski telah ada Putri.
***
"Ayo, Put!"
"Nggak pamit dulu sama ibu kamu?"
"Tadi udah, kok!"
Wawan menarik tangan Putri. Mereka harus cepat pergi. Jangan sampai Tia melihat Putri datang menjemputnya. Bisa gawat nanti.
Begitu keluar dari rumah, Wawan berdiri kaku di samping Putri. Di depan mereka berdiri Tia dengan tampang mirip serigala marah.
"Jadi cewek gendut ini yang membuat sikapmu berubah sama aku?" sengit suara Tia, tangannya menunjuk Putri.
"Tia, jaga mulutmu!"
"Jangan muna, deh! Sudah jelas kamu berduaan sama cewek jelek ini. Nggak sangka, mata kamu bisa silau karena mobil mengkilapnya itu."
"Tia!" bentak Wawan.
"Apa?!" Tia melotot dengan sikap menantang.
Tanpa suara Putri berlari ke dalam mobilnya. Matanya berkaca-kaca. Seumur hidup belum pernah ia dihina orang seperti ini.
"Putri, tunggu!"
Mobil melaju. Putri tak acuhkan panggilan Wawan.
"Puas kamu?!" desis Wawan tajam, sebelum meninggalkan Tia.
"Wan, tunggu!"
Wawan mengibaskan tangan tanpa menoleh. Ia banting pintu depan sekuat tangan.
Ia tidak mau bicara untuk saat ini.
***
"Kalau kamu jujur sama Tia, nggak bakal dia menghina aku seperti kemarin. Aku memang jelek dan gendut. Cuma punya uang. Tapi nggak pantas dia menghina aku begitu."
"Maafkan aku, Put!"
"Aku juga nolong kamu dengan tulus. Bukan karena aku ingin jadi pacar kamu. Bukan, Wan!"
Wawan menatap wajah Putri. Ia malu pada dirinya sendiri. Selama ini ia berpikir segala kebaikan Putri padanya bagai ada udang di balik batu. Ia pikir Putri jatuh cinta padanya. Makanya ia rahasikan Putri dari Tia, begitu juga sebaliknya.
"Besok aku akan minta Tia untuk minta maaf sama kamu."
"Nggak perlu, Wan. Bilang saja sama dia, aku bukan cewek perusak hubungan orang."
Wawan mengangguk.
Ah, Putri! Hatimu memang seribu kali lebih cantik dari rupamu, bisik Wawan dalam hati. ©

Pahitnya Dusta

Ari Sayang (Wina memang terbiasa menyebut diari berwarna hijau lumut miliknya itu dengan sebutan Ari), mungkin kamu mulai bosan mendengar ceritaku akhir-akhir ini yang melulu mengenai Teguh. Habis bagaimana, aku memang sedang jatuh cinta pada cowok itu.
Kata teman-teman, dia anak orang miskin. Tapi aku tidak perduli dengan semua itu. Teguh kelihatan dewasa, tenang dan pintar. Pokoknya, aku cinta setengah mati sama dia.
Kamu tahu tidak, Ri! Sekarang aku lagi hepi berat. Tadi istirahat sekolah, tanpa sengaja aku tabrakan sama Teguh di pintu perpustakaan. Salahku juga memang, mau keluar terburu-buru dan nggak ngeliat jalan. Makanya aku menabrak Teguh yang mau masuk. Waduh, senangnya. Soalnya wajahku terbenam di dadanya. Seru, deh!
Teguh nggak marah. Malah dia tersenyum. Manis banget. Aku cuma bisa melongo. Sedikit menyesal kenapa aku nggak pura-pura terjatuh. Barangkali saja Teguh akan mengulurkan tangan, memapahku untuk berdiri. Hihihi... agak norak ya, Ri?! Tapi biarin, deh! Namanya juga lagi kasmaran.
Wina berhenti sejenak. Membaca ulang tulisan di buku hariannya. Ia tercenung sambil berusaha merangkai kata apa yang akan ditulisnya lagi.
Tapi kira-kira Teguh mau nggak ya, Ri, sama aku. Aku kan nggak cantik. Mana pendek dan gemuk lagi. Kadang aku suka sedih, kenapa aku terlahir tidak cantik. Tidak seperti kakakku itu. Hingga akhirnya tak satu pun cowok yang berusaha mendekatiku. Padahal teman-temanku sudah punya pacar semuanya.
Ah, andai saja Teguh mau jadi pacarku....
Tulisan Wina berhenti lagi. Kali ini diraihnya boneka panda yang sedari tadi membisu di samping. Wina terlentang dengan boneka dipelukan. Menatap langit-langit kamar yang berwarna biru muda. Di sana ia seperti melihat Teguh tersenyum padanya.
Tidak ada sejam kemudian, kedua mata Wina telah terpejam. Di bibirnya ada senyuman. Barangkali ia tengah bermimpi indah.
Pintu kamar terbuka. Mama melangkah masuk. Kepala Mama menggeleng-geleng melihat Wina yang ketiduran. Diselimutinya tubuh Wina. Sebelum mematikan lampu, mata Mama tertumbuk pada buku harian Wina yang terbuka.

***
Dan menurut majalah yang pernah dia baca, tidak semua pria tertarik kepada wanita karena kecantikan fisik, tetapi ada juga yang tertarik karena inner beauty-nya.
Istirahat pertama. Biasanya saat seperti ini Wina pasti berada di perpustakaan. Maka Teguh mengayun langkah ke sana. Dari pintu perpustakaan ia lihat Wina duduk pada salah satu bangku, menekuri buku yang terbuka di depannya dengan serius.
Tanpa suara Teguh mengambil tempat di depan. Ditatapnya gadis yang tetap tidak bereaksi dengan kehadirannya itu.
"Hai...."
Wina mengangkat wajah. Terbersit sebuah senyuman di bibirnya begitu tahu kalau Teguh yang duduk di depannya.
"Serius sekali. Baca apa?"
Wina mengangkat buku di tangannya. Hem, sebuah novel sastra dari angkatan Balai Pustaka.
"Berniat jadi sastrawati?"
"Cukup jadi pengarang cerpen remaja saja."
"Honor pengarang itu kecil."
"Uang bukan segalanya, kan?"
Teguh mendegut ludah.
"Kamu mau baca buku juga?"
"Pengen ngobrol sama kamu aja."
Wina melengak. Jawaban Teguh barusan bagai anak panah yang menohok tepat di ulu hatinya. Hingga ia rasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Dadanya kembang kempis. Tapi ia suka dengan debaran itu.
"Tentang apa?"
"Tentang apa, ya?" Mengerut kening Teguh. Hingga alis mata yang hitam dan lebat itu saling beradu. "Pokoknya pengen ngobrol saja."
Merona kedua pipi Wina. Ia jengah. Teguh tidak seperti biasanya. Kali ini dia terasa berbeda. Sangat perhatian dan lembut. Sementara sorot matanya kala menatap, membuat dengkul Wina bergetar dan lemas.
"Kamu nggak ke kantin?"
"Nggak lapar."
"Gimana kalau kita ngobrol di taman sekolah saja? Di sini udaranya terasa pengap. Belum lagi orang merasa terganggu dengan suara kita."
Oh, Tuhan! Apa yang Kau bisikkan ke telinga Teguh hingga dia begitu manis padaku, bisik Wina dalam hati.
"Bagaimana, Win?"
"Boleh."
Wina bangkit duluan. Lalu Teguh menyusul dari belakang. Tapi tiba-tiba Teguh mensejajari langkahnya dan dengan memberanikan diri menggenggam jemari tangan Wina yang kayak jempol semua.
***
Wina berdiri di depan cermin besar dalam kamar. Dengan seksama, ia pandang tubuhnya yang terlihat dari atas kepala sampai kaki, dalam cermin.
Tinggi tubuhnya hanya 150 cm dengan berat hampir 70 kilo. Meski kulitnya putih mulus, dia tidak terlihat menarik. Mungkin karena pipinya terlalu bulat. Ditambah dengan tumpukan lemak di leher dan pinggangnya.
Harus ia akui, kalau dia tidak cantik. Sangat berbeda dengan kakaknya yang pacar seorang pengarang cerpen itu.
Tapi Wina coba menghibur diri sendiri. Seperti kata orang-orang di tivi, kecantikan tidak hanya dipandang dari fisik semata. Ada kecantikan yang terpancar dari dalam hati, yang biasa disebut dengan inner beauty.
Dan menurut majalah yang pernah dia baca, tidak semua pria tertarik kepada wanita karena kecantikan fisik, tetapi ada juga yang tertarik karena inner beauty-nya.
Mungkin Teguh termasuk yang terakhir tadi. Yah, setelah hampir dua minggu melakukan pendekatan, akhirnya sore tadi Teguh menyatakan cinta padanya.
"Mungkin bagimu terlalu cepat kalau aku mengatakan sangat menyukaimu. Tapi dua minggu mengenalmu lebih dekat, aku sudah tahu kalau ternyata kau sangat istimewa. Hatimu sangat lembut. Bersamamu, aku merasa damai dan bahagia. Akan lebih menyenangkan kalau kita merajut hari depan bersama," kata Teguh seraya meremas jemari tangan Wina. "Maukah kau menjadi pacarku?" lanjutnya kemudian dengan menatap mata Wina amat mesra.
Coba bayangkan, perempuan mana yang tidak runtuh hatinya dipuja sedemikian rupa oleh cowok ganteng. Dan perempuan mana yang tidak pasrah saja ditatap sedemikian mesra oleh cowok sekelas bintang film.
Wina mengangguk malu-malu. Dan kursi di taman kota menjadi saksi betapa bahagianya mereka sore tadi. Di saat Teguh bermaksud mencium bibirnya, Wina mengelak halus. Hingga bibir Teguh menempel di pipinya yang gembul.
***
"Tinggalkan dia!"
"Apa maksudmu?"
"Dia hanya ingin memerasmu."
"Kamu tak berhak menuduh Teguh sehina itu," meninggi suara Wina.
Rere tertawa sinis, membuat rasa dongkol Wina menjadi berlipat.
"Lihat saja, semenjak pacaran sama kamu dia berubah drastis. Punya banyak baju baru, sepatu mahal, jam tangan selalu berganti-ganti dan sangat royal kepada teman-teman. Malah yang aku dengar, dia tidak lagi jualan rokok di lampu merah sepulang sekolah."
"Kamu menuduh aku yang membandari dia?"
"Siapa lagi?"
"Jangan sembarangan, Re! Aku tak setolol dugaanmu," ujar Wina, sebelum meninggalkan sahabatnya itu.
Rere mengikuti dari belakang.
"Win...."
Wina mengibas tangan.
"Kalau bukan kamu, dari mana dia mendapat uang sebanyak itu."
"Dia masih punya orangtua."
"Aku tahu keadaan keluarga mereka."
Wina menghentikan langkah. Garang ia menatap Rere. "Apa maumu sebenarnya?"
"Jangan berpikiran jelek. Aku hanya tidak ingin kamu diperalat."
"Teguh tulus mencintaiku."
"Mana mungkin."
"Aku memang jelek, Re! Tapi Teguh tidak seperti kamu, menilai seseorang hanya dari kulit saja. Satu hal yang perlu kamu tahu, sepeser pun Teguh tidak pernah meminta uang dariku."
***
Enam bulan yang lalu, Teguh pernah memasuki cafe mewah ini. Jadi ini kali kedua dia ke sini, untuk menemui wanita yang sama. Hanya bedanya, enam bulan yang lalu dia yang diundang kemari. Sedangkan hari ini, dia yang meminta wanita itu untuk datang kemari.
Mereka duduk berhadapan di meja yang sama seperti enam bulan yang lalu.
"Ada apa?"
"Saya mengundurkan diri, Tante!" kata Teguh pelan dengan kepala menunduk.
"Maksudmu?"
"Saya tidak mau lagi menerima uang dari Tante."
"Kenapa? Apa kurang banyak?"
Teguh mengangkat wajah dan menggeleng. Menatap Tante Mien dengan takut-takut.
"Jadi?"
"Saya... saya merasa berdosa kepada Wina, karena telah memanfaatkannya. Apalagi setelah enam bulan bersamanya, saya merasa benar-benar jatuh cinta kepadanya. Wina begitu baik dan...."
"Masih ingat dengan perjanjian kita? Kamu Tante bayar dua juta perbulannya hanya untuk pura-pura jadi pacarnya, bukan untuk mencintainya. Karena Tante tahu, kamu tidak sebanding dengan anak Tante."
"Tapi...."
Ucapan Teguh terputus. Di depannya tiba-tiba Wina berdiri. Teguh terkejut. Begitu juga Tante Mien, mama Wina. Bagaimana Wina juga bisa berada di sini?
"Ternyata Rere benar, kamu hanya ingin memanfaatkanku," jeritnya sebelum berlari meninggalkan cafe itu.
Teguh bermaksud mengejar. Tapi Tante Mien menahan tangannya.
"Jangan coba-coba mendekati anak Tante!" desisnya tajam. Ia tinggalkan Teguh sendirian di tempat itu.
***
"Mama jahat!" pekik Wina sambil menelungkupkan wajah di balik bantal.
"Salah Mama memang. Tapi semua Mama lakukan semata-mata hanya ingin membahagianmu. Mama tahu kalau kamu begitu mencintainya. Berharap suatu hari ia menjadi milikmu. Lalu Mama selidiki latar belakangnya, setelah tahu semua, Mama yakin dia pasti mau disogok dengan uang."
Isak Wina terhenti. Kepalanya terangkat menatap Mama.
"Maafkan Mama karena tanpa sengaja pernah membaca buku harianmu."
Kembali Wina menelungkupkan wajahnya di bantal. Rasa marah, benci, sedih dan malu bergumul jadi satu di hatinya. ©

Tiga Istri Satu Kota

Di bawah pohon kemboja, dengan sebatang rokok, di depannya, kuburan-kuburan yang bukan familinya, Jumari duduk bersandar di atas selembar koran. Biasanya yang menyapa cuma Pak Kimung, penjaga kuburannya itu dengan sapaan yang tak pernah berubah.
"Lagi cari solusi, Pak Jumari?" Demikian sapanya yang klise.
Apakah sedang merapikan rumput-rumput kuburan atau sedang lewat dengan sepeda pancalnya, Pak Kimung pasti akan menyapa dengan sapaan yang khas seperti itu.
Lelaki berumur lima puluh tahunan ini, selalu datang ke TPU itu sekadar mencari solusi bagi ketiga rumah tangganya. Ruwet atau tidak ruwet, jika akalnya sudah keteteran untuk membagi keadilan kepada istri-istrinya dan juga kepada anak-anaknya, Jumari akan melarikan dirinya ke situ, merokok, memandangi awan gemawan sore hari, membalas sapaan Pak Kimung, dan tentunya mencari solusi-solusi baru bagi rumah tangganya. Dia sebisa mungkin adil. Walau tidak seratus persen, dia harus bisa membagi waktu dan perhatian-perhatian lainnya kepada ketiga istri dan empat anak-anaknya. Tetapi selama ini Jumari telah melakukannya dengan baik kepada ketiga istri-istrinya itu.
Dari istri pertama, Jumari dikaruniai dua anak, sedang dari istri kedua dan ketiga masing-masing satu anak. Tempat tinggal istri-istrinya berada di tiga wilayah Ibukota; Selatan, Timur dan Utara. Biar tidak jujur, yang penting adil. Semua meminta, semua harus dapat. Pun kepada keempat anaknya, jika yang satu minta tas baru, yang lainnya pasti dibelikan sepatu atau mainan. Uang yang diberikannya pun seratus persen dari gaji. Tanpa embel-embel korupsi atau memanipulasi hasil tugas yang selama ini dia kerjakan. Gaji yang nyaris mencapai tiga jeti, kerja sebagai kepala bagian departemen pemasaran pada perusahaan yang bergerak di bidang interior bangunan.
Kendaraan yang dimiliki Jumari cuma sepeda motor. Namun dia bangga. Dengan motornya itu, dia bisa cepat menjambangi istri-istrinya dan juga anak-anaknya jika di antara mereka ada masalah. Jumari juga rajin ke masjid. Dia tidak pernah meninggalkan lima waktu. Namun itu tadi, kebiasaan Jumari jika pikirannya lagi buntu, dia akan mendatangi TPU dan menghabiskan waktu sorenya di sana. Merokok, memandangi awan gemawan sore hari. Soal merokok, dia berpendapat, merokok di kompleks pekuburan tidak melanggar undang-undang yang belum lama ini diterapkan oleh Pemerintah DKI. Karena merokok di pekuburan tak menggangu ketertiban umum. Orang-orang yang sudah mati tidak akan merasa terganggu kenyamanannya. Itu pendapat Jumari.
***
"Lagi cari solusi, Pak Jumari?" sapa Pak Kimung lagi. Yang disapa cuma mengangguk, tersenyum lalu melambaikan tangan. Jumari terbayang kejadian beberapa hari belakangan tentang keempat anaknya dari ketiga istrinya.
"Pak, Rio minta ganti tas sekolahnya tuh. Katanya sih kancingnya dol," kata Kim, istri kedua Jumari.
"Ya. Tapi belum bisa besok, mungkin lusa," jawab Jumari sambil melipat koran yang dibacanya.
Kim menghampiri Jumari lalu mencium kepala suaminya itu. Jumari merasakan kasih sayang istri keduanya itu begitu tulus.
Esoknya di rumah istri pertama, hati Jumari agak dikejutkan oleh sapaan Ren si Istri pertamanya, "Mas, Sea badannya panas. Sekolah saja tadi pulang setengah hari."
Jumari bergegas ke kamar Sea, anak pertama dari istri pertamanya. Jumari mendapatkan Sea tengah terbaring di pembaringan terbalut selimut. Jumari memegang kening anaknya yang sedang menanjak remaja itu.
"Cepat Jeng, gantikan bajunya. Aku mau bawa Sea ke dokter!"
Sea dibangunkan oleh sang Ibu, disodorkan baju yang bersih untuk salin. Sea, meski agak pusing kepalanya, tetap menuruti perintah kedua orangtuanya. Lalu Jumari membawanya pergi ke dokter malam itu juga. Setelah diperiksa oleh dokter jaga duapuluh empat jam, ternyata Sea cuma demam biasa.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," kata dokter itu.
Jumari kembali tenang. Semoga Mia, Dea, anak-anakku lainnya dalam keadaan sehat! renung Jumari dalam kepulan asap rokok yang kesekian.
"Lagi cari solusi, Pak Jumari!" sapaan Pak Kimung sambil lalu di atas sepeda pancalnya itulah yang membuat Jumari terjaga dari lamunannya di kompleks pemakaman itu.
***
Dalam lamunannya yang lain, Jumari sedikit heran, Tuhan kok begitu baik kepadanya. Dia dikasih kepercayaan untuk menjadi seorang suami bagi ketiga perempuan yang berbeda usia itu. Ketiga istrinya pun akur-akur saja walau hanya setahun sekali berkumpul di saat hari Lebaran saja. Mereka berkumpul di rumah Ren, istri tertua Jumari. Dea, anak dari istri termudanya, Mona, sering menginap di rumah istri tertuanya. Dea yang baru berumur tiga tahun, sangat disukai oleh Sea dan Mia, anak dari Ren, istri tertuanya. Dea yang imut, di mata mereka sangat lucu karena tidak cengeng dan paling cantik di antara anak-anak perempuan Jumari yang lainnya. Yang aneh adalah Rio, anak dari istri keduanya. Rio kalau sudah kumpul dengan saudara-saudaranya dari lain ibu, lebih banyak diam, tidak agresif. Tidak seperti Dea yang mau membaur dengan siapa saja. Tetapi pada umumnya mereka saling sayang menyayangi.
Di kantor Jumari, ada yang tahu kalau dirinya punya istri tiga namun akur semua. Namanya Pak Rudi.
Dia sering nyeletuk, "Kasih tahu dong resepnya. Kok bisa sampai akur begitu?"
Jumari hanya tersenyum. Lalu jawaban yang keluar dari mulutnya cukup sekata, "Ibadah."
Senja mulai merangkak. Rokok terakhir sudah dia matikan. Jumari bangkit terus berjalan mendekati motornya yang diparkir di dekat pos penjagaan.
'Sedang apa kamu Dea, sayang?' batin Jumari menyapa. 'Papa akan bawakan kamu donat. Tunggu Papa ya,' bisik hatinya lagi.
Di perjalanan, Jumari menghentikan motornya tepat di depan toko kue. Lalu masuk dan memesan donat kesukaan Dea. Dan, Dea sudah tahu saja suara motor yang berhenti di depan rumahnya adalah motor ayahnya yang hari itu adalah waktu pulang ke rumah Mona, istri ketiganya, istri yang termuda dari istri pertama dan keduanya. Mona dan Dea yang sedang menonton film kartun di televisi, bergegas membuka pintu rumahnya. Sebuah etika keluarga, Dea mencium tangan ayahnya, disusul Mona yang mencium tangan suaminya.
"Papa sehat?" sapa Mona sambil mengiringi Jumari masuk ke dalam rumah.
Jumari mengangguk lalu mengangkat Dea ke atas pangkuannya. "Papa bawa donat kesukaanmu, Sayang. Tuh di dalam tas!"
Mona, atas izin Jumari mengeluarkan bungkusan dari dalam tas suaminya, lantas diberikan kepada anaknya. Dea senang sekali, lalu turun dari pangkuan ayahnya. Dia membongkar bungkusan donat di atas meja. Jumari meneguk air yang disediakan Mona. Kemudian sang istri berjongkok membuka tali sepatu suaminya.
***
Suatu hari, kepanikan terjadi pada tiga keluarga satu ayah itu. Dea hilang diculik. Mona, ibu Dea, menelepon ke Ren, istri pertama suaminya untuk memberitahukan kalau Dea tidak ada di rumahnya.
"Mungkin di rumah, Mbak?" tanya Mona.
Ren terkejut. "Tidak ada, Dik! Coba telepon ke rumah Kim, siapa tahu Dea dibawa ayahnya ke sana," usul Ren.
"Baik Mbak, terima kasih," balas Mona di telepon.
Tanpa menunggu lama akhirnya Mona langsung telepon ke rumah Kim untuk menanyakan hal yang sama tentang keberadaan Dea. Tetapi Dea tidak ada di rumah Kim. Rio, anak Kim yang baru duduk di kelas dua sekolah dasar turut sedih mendengar Dea hilang. "Kita cari yuk, Ma," ajak Rio.
"Kemana mencarinya, Rio? Di rumah saudara-saudaramu tak ada," tanggap ibunya.
Akhirnya Mona menyampaikan ihwal hilangnya Dea kepada suaminya. Jumari terkejut bukan main, kemudian dia langsung lapor ke kantor polisi tentang hilangnya Dea dengan ciri-ciri lengkap.
Sebuah kemujuran, tiga hari kemudian, Kim melihat Dea sedang dituntun oleh seorang perempuan setengah baya di perempatan jalan. Mereka baru saja turun dari angkot. Kim langsung berlari menghampiri salah seorang polisi yang kebetulan sedang bertugas di persimpangan jalan yang cukup ramai itu, untuk memberitahukan kalau anak yang sedang dibawa oleh perempuan yang baru turun dari angkot itu adalah anaknya yang hilang, tiga hari lalu. Sang polisi sertamerta mengejar perempuan yang dilaporkan Kim untuk ditangkap. Perempuan itu terkejut dan meronta saat tangannya dipegang polisi.
"Maaf, Ibu dilaporkan telah membawa kabur anak orang. Ibu anak ini sedang mencarinya, itu Ibunya!" kata polisi menunjuk pada Kim yang berlari mendekat.
"Dia bukan ibu anak ini. Saya tahu, Pak. Anak ini anak saya!" bantah si Penculik. Dea melihat Kim, lalu tersenyum karena mengenalnya.
"Apakah benar ini anak Ibu?" Polisi yang mulai bingung itu balik tanya kepada Kim.
"Dea ini anak saya, Pak Polisi. Kalau begitu tahan dulu perempuan itu, saya telepon ayah anak ini, biar jelas," kata Kim langsung menghubungkan Jumari lewat ponselnya. Terjadi percakapan singkat. Lalu Kim menutup ponselnya. "Sebentar, suami saya akan datang, Pak," kata Kim menjelaskan sambil memasukkan ponsel ke dalam tas cangkingnya
Sambil tetap menahan perempuan setengah baya itu, polisi menyempatkan bertanya pada Dea yang kini ada di tangan Kim.
"Nama kamu Dea, kan?"
Dea mengangguk.
"Benar, Ibu ini, Mama Dea?" tanya polisi lagi kepada Dea.
"Ibu ini Mamanya Rio, Mama Dea juga," jawab Dea polos.
Polisi nyaris tertawa. Saat bersamaan Jumari datang dengan menyewa taksi. Perempuan setengah baya itu terkejut melihat Jumari muncul sesaat sebelum ia berkilah mengurai dusta. Mereka ternyata sudah saling kenal. Jumari langsung membopong Dea.
"Mbok Tun, kok ada di sini?" tanya Jumari terheran-heran.
Yang ditanya tidak menyahut.
"Dia yang menculik Dea, Mas!" sahut Kim spontan.
Orang-orang mulai berkerumun sekadar ingin melihat.
"Pak Polisi, perempuan ini dulu pernah jadi tetangga saya. Berarti sudah tiga kali dia menculik anak tetangganya sendiri, termasuk anak saya sekarang ini, Pak. Tangkap dia, Pak. Pasti anak saya mau dijual!"
Akhirnya setelah polisi mendapat kejelasan, perempuan setengah baya itu dibawa ke kantor polisi. Sedang Jumari hari itu juga membawa pulang Dea ke rumah istri ketiganya dan memberitahukan kalau Kim, madu keduanya yang menemukan Dea. Mona langsung menelepon Kim melalui ponselnya.
"Kak, terima kasih, ya. Tidak tahu bagaimana jadinya kalau seandainya tidak ada Kakak di situ," kata Mona terharu.
"Sama-sama, Mona. Anakmu adalah anakku juga," balas Kim dari seberang.
Cukup singkat percakapan kedua perempuan yang bersuamikan satu lelaki itu. Singkat namun cukup mengandung pengertian dan tali persaudaraan.
Sore itu, sepulang dari kerja, Jumari kembali mendatangi TPU dan menghabiskan waktu sorenya di sana. Duduk di bawah pohon kemboja. Merokok, memandangi awan gemawan, berpikir, dan merenung tentang kehidupan dalam rumah tangganya. Meneropong ke masa depan, melihat kejadian-kejadian yang baru lalu. Sampai Pak Kimung kembali lewat dengan sepeda pancalnya, dan masih sama seperti pada sore-sore sebelumnya, penjaga kuburan itu menyapa dengan sapaan khasnya.
"Lagi mencari solusi, Pak Jumari?" ©