Senin, 07 Juni 2010

Catatan Puisi Dari Seorang Sahabat

 * APA ITU CINTA ??? *
 
Mereka yang tidak menyukai'y menyebut'y tanggung jawab,
Mereka yang bermain dengan'y, menyebut'y sebuah permainan,
Mereka yang tidak memiliki'y, menyebut'y sebuah impian,
Mereka yang mencintai, menyebut'y takdir.
Kadang AALLAH SWT yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk menguji Qt. Kadang Ia pun meLukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam daLam.
Jika Qt kehiLangan Cinta, maka pasti ada aLasan di baLik'y.
aLasan yang kadang sulit untuk d'mengerti, namun Qt tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia teLah siap memberi yang Lebih baik.

Mengapa menunggu?

Karena waLaupun Qt ingin mengambiL keputusan, Qt tidak ingin tergesa-gesa.
Karena waLaupun Qt ingin cepat-cepat, Qt tidak ingin sembrono.
Karena waLaupun Qt ingin segera menemukan orang yang Qt cintai, Qttidak ingin kehiLangan jati diri Qt daLam proses pencarian itu.
Jika ingin berlari, beLajar'Llah berjaLan dahuLu,
Jika ingin berenang, beLajar'Lah mengapung dahuLu,
Jika ingin d'cintai, beLajar'Lah mencintai dahuLu.

Pada akhir'y, Lebih baik menunggu orang yang Qt inginkan, ketimbang memiLih apa yang ada.
Tetap Lebih baik menunggu orang yang Qt cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
Tetap Lebih baik menunggu orang yang tepat, Karena hidup ini terlampau singkat untuk d'Lewat'kan bersama piLihan yang saLah, karena menunggu mempunyai tujuan yang muLia dan misterius.
perLu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar daLam waktu semaLam,
Kota Roma tidak dibangun daLam sehari,
Kehidupan d'rajut daLam rahim seLama sembiLan buLan,
Cinta yang Agung terus bertumbuh seLama kehidupan.
Kebanyakan haL yang indah daLam hidup memerLukan waktu yang Lama, Dan penantian Qt tidak'Lah sia-sia.
waLaupun menunggu membutuhkan banyak haL– iman, keberanian, dan pengharapan – penantian menjanjikan satu haL yang tidak dapat seorang pun bayangkan.
Pada akhir'y. ALLLAH SWT daLam segaLa hikmat-Nya, meminta Qt menunggu, karena aLasan yang penting !!!

* Seperti itu'Lah yg sekarang aku Lakukan kepadamu 051209 !!! *
 
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* AIR MATA *
 
Jika aku adaLah air mata
Aku ingin Lahir dari mata indahmu
Hidup bahagia d'Lembut'y pipimu
Dan berakhir manis d'bibir tipismu

Tapi jika engkau adaLah air mata
Aku tak'kan pernah sekaLipun menangis
Karena aku tak ingin kehiLangan dirimu
BiarLah tetap indah d'mataku

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* KENYATAAN YANG AKU RASAKAN *

Terdiam sesaat seteLah tw smua yg sebenar'y,
tak tw harus bagaimana tuk Langkahkan kaki ini,,
apa yg sebenar'y aku Lakukan dan apa yg harus ku perbuat sekarang ?

jiwa ini bergejoLak ingin menebas smua yg menghaLangi,
namun apa mampu aku Lakukan itu smua ??
tak'kan pernah ada yg mampu menahan smua apa yg ku rasakan...

smua meLarangku menangis, hatiku tak boLeh menjerit
Tapi mereka tertawa, bukan'y memapah jiwaku yg Lemah
Tak ada Lagi singa dan serigaLa d'daLam jiwaku kini
Kumohon toLong berhentiLah menertawakan kepergian'y !

Aku hanya ingin kau tw, bukan menertawakanku
Jika tak bisa kau berikan aku empatimu
Jika tak bisa kujadikan engkau penguatku,,
Kumohon berikan aku ruang sunyi untuk mendamaikan diri
tuk menanti'y datang kembali,,!!

Jika saLahku sudah tak bisa kau Maafkan,
dan tak ada Lagi ruang daLam hatimu ...
namun dengarkan'Lah jert hati ini ...

Karena smua haL yg seLaLu aku berikan untukmu,
itu semua demi KEBAIKKAN Dirimu... tak Lebih ...
aku tak' pernah menjerumuskan orang yg aku sayang dan cnta k'daLam jurang KEBUSUKAN !!!

BENCI'Lah aku sesukamu,
HINA'Lah aku dengan Keadaanku,,
Aku akan terima smua itu karena MeMang Begtu ada'y !!!

Tangisan Jiwa daLam Hati,
jeritan Hati daLam Raga tak'kan Kurasa'kan Meski perih mengiris !!!
kan ku korbankan smua'y demi kebaikkan dirimu !!!

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* BERDUA LEBIH BAIK*

Menatap padang meLuas,
berdiri seorang,
tiada siapa temani

Susuri jaLan panjang,
hingga temui Lembah curam
Tetap sendiri
Susah payah
Lewati'y
Hingga raga
bermandi peLuh

Inginku,
daLam susah, daLam senang
bisa LaLui bersama
Sosok yang bisa beri makna
bersama nikmati masa suka,
dukung aku d'saat duka

Tahukah kau ?
ALLAH teLah ciptakan semua dengan pasangan'y ??
ingatkah kau?
LeLah rasa'y jaLani semua sendiri

Ingin aku Lewati Lembah hidup
yang tampak indah
Berdua denganmu,
pasti Lebih baik
Aku yakin itu
karena sendiri hati
bagai Langit b'seLimut kabut

Kasihku,
Inginku kau ada disini,
temaniku arungi hidup.
Hawamu kuyakin kan kuatkan jiwaku.
Berdua denganmu pasti kan Lebih baik,
Kau Laksana air di padang pasir,
bagiku.

Perempuanku
Biarkan aku d'sini untukmu,
Ku hanya ingin hibur kau maLam ini
maLam yang pasti menyenangkan
untukmu dan untuk diriku
Namun,
Ku jua sadar
Tak mudah gapai asaku
Bersama denganmu
smua tetap harus ku jaLani
daLam kesendirian

Lihat kawan d'sana
b'arak mengikutiku pasti dia pun tahu
Namun harus ku jaLani
Berdua denganmu, pasti Lebih baik
Aku yakin itu
biLa sendiri hati bagai Langit berselimut kabut !!!

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* Apa Ini Yang AKu Rasakan ??? *

Tak dapat memiliki seLama'y mungkin itu semua hanya untuk aku
mengapa seLaLu semua itu terasa jauh untuk aku
yang tak ada satupun yang dapat aku genggam,
sekaLi aku menggenggam'y semua itu suLit untuk aku …….
tak tahu apa yang harus aku Lakukan untuk meLawan takdir ini.
tak ada sesuatu yang aku butuhkan yang bisa bersama aku.
hanya dengan tuLisan ini aku bisa meLegakan diriku ………
konyoL,bodoh tak pernah aku tahu, arti semua ini .
jika semua ini hanyaLah akan menjadi kenangan yang t'amat pahit untuk aku ………
apakah yang terbaik untuk aku………
mungkin hanya dia tapi banyak penghaLang yang dia pun tak kan bisa menyangga aku disaat ku terjatuh !!!

ALLAH jika memang ini rencanamu ijinkan aku merasakan semua itu ……….
apakah menunggu jawaban kepastian itu ada untuk aku d'sini ……….
apakah cerita yang hanya tabu ……..
bagi smua yang meLihat……..
seLaLu berharap ini hati akan seLaLu hidup dan tak akan ada Lagi kisah yang aku jaLani tanpa mu……
aku sadar dari apa yang aku jaLani dan itu resiko yang harus aku tanggung sendiri tak tahu harus bagaimana aku menyikapi diriku !!

Semuanya Menjadi Tak Berarti Saat Semua itu Menguasai Pikiran !!!

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* Bukan'kah kaLian juga Punya Rasa ??? *

Wahai Sahabat" ku...
Dengar'Lah bisikan kata" ku ini.
TuLis'Lah wahai Sahabat" ku ...
TuLis'Lah madah cinta mu,
TuLis'Lah puisi cinta mu,,
TuLis'Lah apa yang terLintas d'hati mu,
Rasakan getaran suara hati naLuri mu,,
Biarkan ia bersuara menjerit
Biarkan s'isi dunia mendengarkan Luapan'y ...
Luapan rasa hati seorang manusia,
Wahai Sahabat ku...!
Jangan engkau berdiam diri
Jangan engkau hanya menjenguk d'sana sini
Komentar sana komentar sini !!

Bukankah kaLian juga mempunyai rasa hati ...?
Sedikit naLuri untuk berpuisi ...??
Wahai Sahabat ku...Percaya'Lah bahwa Qt cuma insan biasa,
coba menerka rahasia kehidupan
sama" juga ada kekurangan
sama" ada sedikit kepahitan
d'daLam merenangi Lautan madah cinta ini
coba membongkar rahasia hakikat puisi cinta !!!

Luapkan semua rasa yang ada jangan biarkan semua itu hiLang terhapus waktu,
pasti akan ada beLenggu yang seLama'y kan terasa ...
biarkan semua itu mengaLir seperti air yang mengaLir sampai Lautan bebas ...

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* KESEDIHANKU !!! *

mungkin tak ada arti'y tetesan air mataku d'antara aLiran sungai ini
matahari senja seoLah sendu menampak'kan cahaya'y d'depan sedihku..
sapuan angin membeLai Lembut wajahku yang menambah sedihku..
saLahkah aku yang inginkan sedikit kasih syang d'antara sejuta sedihku ?
saLahku aku yang inginkan dirimu seutuh'y ??
hingga ku tak sanggup menahan semua sakit ini..
tak ada kejutan Lagi d'baLik impian bahagia..
apa takdirku memang harus begini ???
apa aku harus merintih d'antara kejam'y dunia ????
yang tak pernah memandang arti dari semua pengorbananku !!
apa ini tak cukup bagimu..
apa ini terLaLu hina untukmu
ku berusaha berjaLan d'atas reLung kehancuran yang kian menggerogoti nyawa ku..
kau tak pernah menganggap kehadiran rasaku
kau tak pernah mw mengerti ..........
hingga tangis iringi kepergianku tuk seLama-Lama'y !!!

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* BUKAN KU TAK SUDI *

Ku anggapkan semaLam
Satu kenangan yang suram
biLa cinta Qt
putus d'jaLan

Ku harapkan impian
menjadi kenyataan
namun aku kecewa

Mudah'y waktu meLafazkan janji
Engkau dan aku berdua serupa
Rupa'y mentari daLam mainan percintaan

TeLah pun ku bentangkan segaLa'y
Mencari entah d'mana siLap'y
jeLas asmara kecundang jua

Bukan ku tak sudi kasih
Untuk bersamamu bercinta Lagi
Karena Qt tw apa sebab'y !!!

* bersinar'Lah hakikat , debu jd permata ,, hina jadi muLia !!! *
sebeLum terLambat !!!!.

(semua puisi dibuat oleh: HanOy Milanisti)

Minggu, 06 Juni 2010

Putihnya Hati Putri

Satpam berkumis runcing itu menatapnya lekat, dari atas kepala hingga kaki. Lalu beralih lagi pada wajahnya. "Kamu siapa?"
"Wawan, Pak. Teman sekolahnya."
"Sudah buat janji?"
"Belum."
"Kalau begitu tidak bisa. Non Putri sedang tidur siang. Nanti saja kembali lagi. Sorean dikit, atau malam. Atau buat janji lebih dulu," ujarnya dingin. Sedingin udara lembab sehabis hujan.
"Tapi, Pak...."
Satpam yang di bajunya tertulis besar-besar nama SAMURI itu menggeleng tegas. Membungkam kata yang akan terucap dari bibir Wawan.
"Saya harus ketemu sekarang, Pak. Ada hal penting yang akan saya bicarakan."
"Kamu mengerti bahasa Indonesia tidak?" ketus suaranya.
"Tolong saya, Pak. Atau biarkan saya saja yang membangunkan Putri."
Satpam itu menatapnya tajam. Lalu tanpa kata dia tinggalkan Wawan, kembali duduk di pos. Kini matanya tertancap pada tivi 14 inch di depannya.
Wawan mendegut ludah. Tangannya berpegang erat pada terali besi pagar. Tubuhnya mulai menggigil. Akibat tersiram hujan lebat. Sebelum meninggalkan rumah, memang mendung telah menggayut. Tapi Wawan tidak peduli. Kesehatan Ibu lebih penting daripada sekadar hujan. Akibat tak ada ongkos, terpaksa ia menempuh jarak sejauh empat kilometer dengan kaki.
Di tengah perjalan hujan deras mengguyur. Begitu sampai di depan rumah Putri, hujan telah reda. Hanya meninggalkan angin lembab dan basah.
Kepala Wawan mendongak. Jendela paling ujung di lantai dua itulah kamar Putri. Mudah-mudahan saja Putri melihatnya berdiri di sini.
Semenit, dua menit, tiga menit. Tak ada wajah yang terlihat pada jendela itu. Wawan menurunkan wajah, beralih pada satpam yang terlihat merem-melek menikmati suguhan musik dangdut di tivi.
"Pak!"
Tak ada reaksi. Wawan memanggil lebih keras.
Satpam itu bergerak. Menoleh pada Wawan. "Belum pergi juga?"
Barangkali Putri sudah bangun, Pak! Bisa tolong...."
"Susah bicara sama orang dungu macam kamu. Dijelaskan nggak bakal mengerti."
Wawan mendegut ludah. Kalau tidak mengingat kondisi ibu yang makin kritis, sudah sedari tadi dia meninggalkan satpam sok jago dan tak punya perasaan itu.
Wawan terlonjak melihat ada bayangan pada jendela kamar Putri yang hanya tertutup tirai tipis itu.
"Put! Putri!" teriaknya sekuat suara.
"Hei, apa-apaan kamu!"
"Putri!!!" panggil Wawan dengan membuat kedua tangannya seperti corong di mulut, agar suara yang keluar lebih keras.
Tirai tipis pada jendela bergerak. Terlihat wajah Putri di sana. Tangan Wawan melambai.
Putri tersenyum. Lantas wajahnya menghilang. Pasti dia sedang turun ke bawah.

***
Tanpa suara Putri berlari ke dalam mobilnya. Matanya berkaca-kaca. Seumur hidup belum pernah ia dihina orang seperti ini.
"Kamu kenapa, Wan?"
"Tadi kehujanan. Jadi...."
"Kenapa tidak masuk?"
"Nggak diizinin sama satpam kamu," sahut Wawan melirik satpam berkumis runcing-runcing yang berdiri salah tingkah itu.
"Kenapa nggak dikasih masuk, Pak?"
"Atas pesan Nyonya, tidak sembarangan tamu bisa masuk."
"Wawan ini teman saya."
"Tapi...."
"Sudah. Cepat buka pintunya."
Tanpa protes lagi satpam itu membuka pintu pagar.
"Masuk, Wan!"
"Nggak usah, Put. Aku hanya perlu sebentar."
"Kita bicara di teras saja."
Ragu Wawan mengikuti langkah Putri.
"Kamu ada masalah?" tanya Putri pelan.
"Penyakit ibuku kambuh lagi."
"Sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Putri khawatir.
"Itulah makanya aku datang ke mari," sahut Wawan pelan. "Aku... nggak ada biaya."
"Ya ampun, Wawan! Kamu bagaimana, sih? Kenapa nggak bilang dari tadi?"
Seperti biasa Putri mengambil sedikit uang dari tumpukan uang dari lemari pakaiannya. Bahkan kali ini Putri berbaik hati membawa Ibu Wawan ke rumah sakit.
***
"Temani aku beli buku."
"Aku nggak bisa."
"Lagi?"
Wawan mengelak dari tatapan Tia. "Mengertilah," desisnya pelan.
"Berapa lama lagi aku ngertiin kamu? Sementara kamu tak pernah menjelaskan ada apa sebenarnya."
"Tak ada apa-apa. Aku hanya sibuk. Jadi tak ada waktu."
"Kesibukan apa hingga kamu selalu tak punya waktu?"
"Tolong, jangan desak aku."
"Aku akan terus bertanya sampai kamu jelaskan semuanya padaku."
"Kamu memaksa?" suara Wawan mulai tidak enak.
"Aku punya hak untuk itu!"
Wawan menarik napas. Menatap gadis yang duduk di sampingnya. Tia pacarnya. Hampir setahun mereka menjalin cinta. Mereka berbeda sekolah, tapi masih bertetangga. Tia sama dengannya. Sama-sama berasal dari keluarga kurang mampu.
"Aku sibuk, Tia. Harus ngerjain PR, beresin rumah, masak buat ibu. Kondisi Ibu kurang fit. Jadi harus aku yang mengerjakan semuanya," ujar Wawan dengan kepala menunduk.
"Perlu bantuan?" suara Tia melunak.
"Nggak usah. Aku bisa kerjakan sendiri."
Diam-diam Wawan menarik napas lega. Andai saja Tia tahu kalau dia tengah berbohong. Tak ada PR yang harus ia kerjakan. Ia juga tidak harus membersihkan dan memasak buat ibu karena semuanya sudah dikerjakan ibu. Malah ibu sudah mulai berjualan sayuran di pasar. Mulai hari ini dan seterusnya ia harus menjaga jarak dengan Tia. Jika Wawan merasa waktunya sudah tepat, ia akan memutuskan tali cintanya.
Bukan karena ia tidak lagi mencintai Tia. Tapi ada hal lain yang harus dia kedepankan ketimbang urusan itu.
***
"Capek?"
Gadis berkulit putih itu menggeleng. Peluh mulai bermunculan di sekitar dahinya yang mulus.
"Biar aku saja yang menyelesaikan. Jangan terlalu kamu paksakan."
"Tinggal sedikit lagi, kok."
Wawan membantu Putri mengatur letak kursi-kursi itu. Akan ada seminar 'Bahaya Narkoba bagi Remaja' di sekolah mereka. Kebetulan mereka berdua masuk sebagai anggota seksi repot.
"Sudah, istirahat saja, Put."
"Aduh, Wan. Jangan kuatir begitu, ah. Kesannya kamu ngeremehin aku."
"Tapi kamu nggak biasa kerja beginian."
"Mulai hari ini aku harus biasakan. Siapa tahu dapat jodoh...."
Wawan mengerti arah ucapan Putri. Makanya ia biarkan Putri ikut mengatur tata letak kursi itu. Bahkan ia hanya geleng kepala melihat Putri menyapu halaman aula sekolah. Bagi Wawan tidak sulit melakuan semua itu. Tapi tidak bagi seorang Putri. Putri anak konglomerat. Pembantu di rumahnya saja mungkin ada lusinan.
Wawan menghela napas panjang. Ia tahu untuk apa Putri mau bersusah payah begitu. Ia juga tahu apa yang harus ia lakukan agar Putri tidak kecewa. Karena Putri teramat berjasa baginya, juga ibunya.
"Besok sore kamu datang, kan?"
"Pasti, dong! Aku kan panitia juga. Lagipula sangat penting bagi remaja seperti kita untuk mengetahui apa saja efek negatif yang ditimbulkan narkoba. Memangnya kenapa?"
"Tunggu aku di rumah. Aku akan jemput kamu."
"Nggak usah, Put. Aku naik angkot saja."
"Jangan menolak kebaikan orang. Lagian, aku senang bisa nolong kamu."
Wawan diam. Di kepalanya muncul Tia. Bisa berabe kalau Tia melihat Putri.
***
"Kata Ibu, tadi kamu datang ke rumah."
Tia tersenyum, lantas mengangguk. Ia ajak Wawan duduk di teras rumahnya.
"Ada apa?"
"Besok sore teman sekolahku ada yang ulangtahun. Aku mau ngajak kamu."
Wawan mendegut ludah. Perubahan wajahnya membuat perasaan Tia tidak nyaman.
"Besok sore ada acara di sekolah."
"Kamu nggak bisa?"
Wawan mengangguk. "Maaf!"
"Akhir-akhir ini perasaan aku nggak enak, Wan. Sikap kamu lain sama aku. Kamu seperti menghindar dan menjaga jarak."
"Benar aku ada acara di sekolah. Seminar tentang narkoba. Aku termasuk salah seorang panitia. Jadi nggak mungkin aku nggak datang."
"Bukan cuma kali ini. Tapi selalu kamu menolak ajakanku. Bahkan kamu nggak pernah lagi datang kemari."
"Aku...."
"Ada orang ketiga?'
"Maksudmu?"
"Kamu punya cewek lain?"
"Kamu menuduhku selingkuh?"
"Sikapmu menjurus ke arah itu."
Walau berat, Wawan menghela napas panjang. Belum saatnya. Yah, belum saatnya ia bicara jujur kalau dalam hidupnya memang ada cewek lain. Wawan tidak mau Tia terluka. Terlebih lagi, perasaannya pada Tia tidak pernah berubah meski telah ada Putri.
***
"Ayo, Put!"
"Nggak pamit dulu sama ibu kamu?"
"Tadi udah, kok!"
Wawan menarik tangan Putri. Mereka harus cepat pergi. Jangan sampai Tia melihat Putri datang menjemputnya. Bisa gawat nanti.
Begitu keluar dari rumah, Wawan berdiri kaku di samping Putri. Di depan mereka berdiri Tia dengan tampang mirip serigala marah.
"Jadi cewek gendut ini yang membuat sikapmu berubah sama aku?" sengit suara Tia, tangannya menunjuk Putri.
"Tia, jaga mulutmu!"
"Jangan muna, deh! Sudah jelas kamu berduaan sama cewek jelek ini. Nggak sangka, mata kamu bisa silau karena mobil mengkilapnya itu."
"Tia!" bentak Wawan.
"Apa?!" Tia melotot dengan sikap menantang.
Tanpa suara Putri berlari ke dalam mobilnya. Matanya berkaca-kaca. Seumur hidup belum pernah ia dihina orang seperti ini.
"Putri, tunggu!"
Mobil melaju. Putri tak acuhkan panggilan Wawan.
"Puas kamu?!" desis Wawan tajam, sebelum meninggalkan Tia.
"Wan, tunggu!"
Wawan mengibaskan tangan tanpa menoleh. Ia banting pintu depan sekuat tangan.
Ia tidak mau bicara untuk saat ini.
***
"Kalau kamu jujur sama Tia, nggak bakal dia menghina aku seperti kemarin. Aku memang jelek dan gendut. Cuma punya uang. Tapi nggak pantas dia menghina aku begitu."
"Maafkan aku, Put!"
"Aku juga nolong kamu dengan tulus. Bukan karena aku ingin jadi pacar kamu. Bukan, Wan!"
Wawan menatap wajah Putri. Ia malu pada dirinya sendiri. Selama ini ia berpikir segala kebaikan Putri padanya bagai ada udang di balik batu. Ia pikir Putri jatuh cinta padanya. Makanya ia rahasikan Putri dari Tia, begitu juga sebaliknya.
"Besok aku akan minta Tia untuk minta maaf sama kamu."
"Nggak perlu, Wan. Bilang saja sama dia, aku bukan cewek perusak hubungan orang."
Wawan mengangguk.
Ah, Putri! Hatimu memang seribu kali lebih cantik dari rupamu, bisik Wawan dalam hati. ©