Minggu, 06 Juni 2010

Pahitnya Dusta

Ari Sayang (Wina memang terbiasa menyebut diari berwarna hijau lumut miliknya itu dengan sebutan Ari), mungkin kamu mulai bosan mendengar ceritaku akhir-akhir ini yang melulu mengenai Teguh. Habis bagaimana, aku memang sedang jatuh cinta pada cowok itu.
Kata teman-teman, dia anak orang miskin. Tapi aku tidak perduli dengan semua itu. Teguh kelihatan dewasa, tenang dan pintar. Pokoknya, aku cinta setengah mati sama dia.
Kamu tahu tidak, Ri! Sekarang aku lagi hepi berat. Tadi istirahat sekolah, tanpa sengaja aku tabrakan sama Teguh di pintu perpustakaan. Salahku juga memang, mau keluar terburu-buru dan nggak ngeliat jalan. Makanya aku menabrak Teguh yang mau masuk. Waduh, senangnya. Soalnya wajahku terbenam di dadanya. Seru, deh!
Teguh nggak marah. Malah dia tersenyum. Manis banget. Aku cuma bisa melongo. Sedikit menyesal kenapa aku nggak pura-pura terjatuh. Barangkali saja Teguh akan mengulurkan tangan, memapahku untuk berdiri. Hihihi... agak norak ya, Ri?! Tapi biarin, deh! Namanya juga lagi kasmaran.
Wina berhenti sejenak. Membaca ulang tulisan di buku hariannya. Ia tercenung sambil berusaha merangkai kata apa yang akan ditulisnya lagi.
Tapi kira-kira Teguh mau nggak ya, Ri, sama aku. Aku kan nggak cantik. Mana pendek dan gemuk lagi. Kadang aku suka sedih, kenapa aku terlahir tidak cantik. Tidak seperti kakakku itu. Hingga akhirnya tak satu pun cowok yang berusaha mendekatiku. Padahal teman-temanku sudah punya pacar semuanya.
Ah, andai saja Teguh mau jadi pacarku....
Tulisan Wina berhenti lagi. Kali ini diraihnya boneka panda yang sedari tadi membisu di samping. Wina terlentang dengan boneka dipelukan. Menatap langit-langit kamar yang berwarna biru muda. Di sana ia seperti melihat Teguh tersenyum padanya.
Tidak ada sejam kemudian, kedua mata Wina telah terpejam. Di bibirnya ada senyuman. Barangkali ia tengah bermimpi indah.
Pintu kamar terbuka. Mama melangkah masuk. Kepala Mama menggeleng-geleng melihat Wina yang ketiduran. Diselimutinya tubuh Wina. Sebelum mematikan lampu, mata Mama tertumbuk pada buku harian Wina yang terbuka.

***
Dan menurut majalah yang pernah dia baca, tidak semua pria tertarik kepada wanita karena kecantikan fisik, tetapi ada juga yang tertarik karena inner beauty-nya.
Istirahat pertama. Biasanya saat seperti ini Wina pasti berada di perpustakaan. Maka Teguh mengayun langkah ke sana. Dari pintu perpustakaan ia lihat Wina duduk pada salah satu bangku, menekuri buku yang terbuka di depannya dengan serius.
Tanpa suara Teguh mengambil tempat di depan. Ditatapnya gadis yang tetap tidak bereaksi dengan kehadirannya itu.
"Hai...."
Wina mengangkat wajah. Terbersit sebuah senyuman di bibirnya begitu tahu kalau Teguh yang duduk di depannya.
"Serius sekali. Baca apa?"
Wina mengangkat buku di tangannya. Hem, sebuah novel sastra dari angkatan Balai Pustaka.
"Berniat jadi sastrawati?"
"Cukup jadi pengarang cerpen remaja saja."
"Honor pengarang itu kecil."
"Uang bukan segalanya, kan?"
Teguh mendegut ludah.
"Kamu mau baca buku juga?"
"Pengen ngobrol sama kamu aja."
Wina melengak. Jawaban Teguh barusan bagai anak panah yang menohok tepat di ulu hatinya. Hingga ia rasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Dadanya kembang kempis. Tapi ia suka dengan debaran itu.
"Tentang apa?"
"Tentang apa, ya?" Mengerut kening Teguh. Hingga alis mata yang hitam dan lebat itu saling beradu. "Pokoknya pengen ngobrol saja."
Merona kedua pipi Wina. Ia jengah. Teguh tidak seperti biasanya. Kali ini dia terasa berbeda. Sangat perhatian dan lembut. Sementara sorot matanya kala menatap, membuat dengkul Wina bergetar dan lemas.
"Kamu nggak ke kantin?"
"Nggak lapar."
"Gimana kalau kita ngobrol di taman sekolah saja? Di sini udaranya terasa pengap. Belum lagi orang merasa terganggu dengan suara kita."
Oh, Tuhan! Apa yang Kau bisikkan ke telinga Teguh hingga dia begitu manis padaku, bisik Wina dalam hati.
"Bagaimana, Win?"
"Boleh."
Wina bangkit duluan. Lalu Teguh menyusul dari belakang. Tapi tiba-tiba Teguh mensejajari langkahnya dan dengan memberanikan diri menggenggam jemari tangan Wina yang kayak jempol semua.
***
Wina berdiri di depan cermin besar dalam kamar. Dengan seksama, ia pandang tubuhnya yang terlihat dari atas kepala sampai kaki, dalam cermin.
Tinggi tubuhnya hanya 150 cm dengan berat hampir 70 kilo. Meski kulitnya putih mulus, dia tidak terlihat menarik. Mungkin karena pipinya terlalu bulat. Ditambah dengan tumpukan lemak di leher dan pinggangnya.
Harus ia akui, kalau dia tidak cantik. Sangat berbeda dengan kakaknya yang pacar seorang pengarang cerpen itu.
Tapi Wina coba menghibur diri sendiri. Seperti kata orang-orang di tivi, kecantikan tidak hanya dipandang dari fisik semata. Ada kecantikan yang terpancar dari dalam hati, yang biasa disebut dengan inner beauty.
Dan menurut majalah yang pernah dia baca, tidak semua pria tertarik kepada wanita karena kecantikan fisik, tetapi ada juga yang tertarik karena inner beauty-nya.
Mungkin Teguh termasuk yang terakhir tadi. Yah, setelah hampir dua minggu melakukan pendekatan, akhirnya sore tadi Teguh menyatakan cinta padanya.
"Mungkin bagimu terlalu cepat kalau aku mengatakan sangat menyukaimu. Tapi dua minggu mengenalmu lebih dekat, aku sudah tahu kalau ternyata kau sangat istimewa. Hatimu sangat lembut. Bersamamu, aku merasa damai dan bahagia. Akan lebih menyenangkan kalau kita merajut hari depan bersama," kata Teguh seraya meremas jemari tangan Wina. "Maukah kau menjadi pacarku?" lanjutnya kemudian dengan menatap mata Wina amat mesra.
Coba bayangkan, perempuan mana yang tidak runtuh hatinya dipuja sedemikian rupa oleh cowok ganteng. Dan perempuan mana yang tidak pasrah saja ditatap sedemikian mesra oleh cowok sekelas bintang film.
Wina mengangguk malu-malu. Dan kursi di taman kota menjadi saksi betapa bahagianya mereka sore tadi. Di saat Teguh bermaksud mencium bibirnya, Wina mengelak halus. Hingga bibir Teguh menempel di pipinya yang gembul.
***
"Tinggalkan dia!"
"Apa maksudmu?"
"Dia hanya ingin memerasmu."
"Kamu tak berhak menuduh Teguh sehina itu," meninggi suara Wina.
Rere tertawa sinis, membuat rasa dongkol Wina menjadi berlipat.
"Lihat saja, semenjak pacaran sama kamu dia berubah drastis. Punya banyak baju baru, sepatu mahal, jam tangan selalu berganti-ganti dan sangat royal kepada teman-teman. Malah yang aku dengar, dia tidak lagi jualan rokok di lampu merah sepulang sekolah."
"Kamu menuduh aku yang membandari dia?"
"Siapa lagi?"
"Jangan sembarangan, Re! Aku tak setolol dugaanmu," ujar Wina, sebelum meninggalkan sahabatnya itu.
Rere mengikuti dari belakang.
"Win...."
Wina mengibas tangan.
"Kalau bukan kamu, dari mana dia mendapat uang sebanyak itu."
"Dia masih punya orangtua."
"Aku tahu keadaan keluarga mereka."
Wina menghentikan langkah. Garang ia menatap Rere. "Apa maumu sebenarnya?"
"Jangan berpikiran jelek. Aku hanya tidak ingin kamu diperalat."
"Teguh tulus mencintaiku."
"Mana mungkin."
"Aku memang jelek, Re! Tapi Teguh tidak seperti kamu, menilai seseorang hanya dari kulit saja. Satu hal yang perlu kamu tahu, sepeser pun Teguh tidak pernah meminta uang dariku."
***
Enam bulan yang lalu, Teguh pernah memasuki cafe mewah ini. Jadi ini kali kedua dia ke sini, untuk menemui wanita yang sama. Hanya bedanya, enam bulan yang lalu dia yang diundang kemari. Sedangkan hari ini, dia yang meminta wanita itu untuk datang kemari.
Mereka duduk berhadapan di meja yang sama seperti enam bulan yang lalu.
"Ada apa?"
"Saya mengundurkan diri, Tante!" kata Teguh pelan dengan kepala menunduk.
"Maksudmu?"
"Saya tidak mau lagi menerima uang dari Tante."
"Kenapa? Apa kurang banyak?"
Teguh mengangkat wajah dan menggeleng. Menatap Tante Mien dengan takut-takut.
"Jadi?"
"Saya... saya merasa berdosa kepada Wina, karena telah memanfaatkannya. Apalagi setelah enam bulan bersamanya, saya merasa benar-benar jatuh cinta kepadanya. Wina begitu baik dan...."
"Masih ingat dengan perjanjian kita? Kamu Tante bayar dua juta perbulannya hanya untuk pura-pura jadi pacarnya, bukan untuk mencintainya. Karena Tante tahu, kamu tidak sebanding dengan anak Tante."
"Tapi...."
Ucapan Teguh terputus. Di depannya tiba-tiba Wina berdiri. Teguh terkejut. Begitu juga Tante Mien, mama Wina. Bagaimana Wina juga bisa berada di sini?
"Ternyata Rere benar, kamu hanya ingin memanfaatkanku," jeritnya sebelum berlari meninggalkan cafe itu.
Teguh bermaksud mengejar. Tapi Tante Mien menahan tangannya.
"Jangan coba-coba mendekati anak Tante!" desisnya tajam. Ia tinggalkan Teguh sendirian di tempat itu.
***
"Mama jahat!" pekik Wina sambil menelungkupkan wajah di balik bantal.
"Salah Mama memang. Tapi semua Mama lakukan semata-mata hanya ingin membahagianmu. Mama tahu kalau kamu begitu mencintainya. Berharap suatu hari ia menjadi milikmu. Lalu Mama selidiki latar belakangnya, setelah tahu semua, Mama yakin dia pasti mau disogok dengan uang."
Isak Wina terhenti. Kepalanya terangkat menatap Mama.
"Maafkan Mama karena tanpa sengaja pernah membaca buku harianmu."
Kembali Wina menelungkupkan wajahnya di bantal. Rasa marah, benci, sedih dan malu bergumul jadi satu di hatinya. ©

Tiga Istri Satu Kota

Di bawah pohon kemboja, dengan sebatang rokok, di depannya, kuburan-kuburan yang bukan familinya, Jumari duduk bersandar di atas selembar koran. Biasanya yang menyapa cuma Pak Kimung, penjaga kuburannya itu dengan sapaan yang tak pernah berubah.
"Lagi cari solusi, Pak Jumari?" Demikian sapanya yang klise.
Apakah sedang merapikan rumput-rumput kuburan atau sedang lewat dengan sepeda pancalnya, Pak Kimung pasti akan menyapa dengan sapaan yang khas seperti itu.
Lelaki berumur lima puluh tahunan ini, selalu datang ke TPU itu sekadar mencari solusi bagi ketiga rumah tangganya. Ruwet atau tidak ruwet, jika akalnya sudah keteteran untuk membagi keadilan kepada istri-istrinya dan juga kepada anak-anaknya, Jumari akan melarikan dirinya ke situ, merokok, memandangi awan gemawan sore hari, membalas sapaan Pak Kimung, dan tentunya mencari solusi-solusi baru bagi rumah tangganya. Dia sebisa mungkin adil. Walau tidak seratus persen, dia harus bisa membagi waktu dan perhatian-perhatian lainnya kepada ketiga istri dan empat anak-anaknya. Tetapi selama ini Jumari telah melakukannya dengan baik kepada ketiga istri-istrinya itu.
Dari istri pertama, Jumari dikaruniai dua anak, sedang dari istri kedua dan ketiga masing-masing satu anak. Tempat tinggal istri-istrinya berada di tiga wilayah Ibukota; Selatan, Timur dan Utara. Biar tidak jujur, yang penting adil. Semua meminta, semua harus dapat. Pun kepada keempat anaknya, jika yang satu minta tas baru, yang lainnya pasti dibelikan sepatu atau mainan. Uang yang diberikannya pun seratus persen dari gaji. Tanpa embel-embel korupsi atau memanipulasi hasil tugas yang selama ini dia kerjakan. Gaji yang nyaris mencapai tiga jeti, kerja sebagai kepala bagian departemen pemasaran pada perusahaan yang bergerak di bidang interior bangunan.
Kendaraan yang dimiliki Jumari cuma sepeda motor. Namun dia bangga. Dengan motornya itu, dia bisa cepat menjambangi istri-istrinya dan juga anak-anaknya jika di antara mereka ada masalah. Jumari juga rajin ke masjid. Dia tidak pernah meninggalkan lima waktu. Namun itu tadi, kebiasaan Jumari jika pikirannya lagi buntu, dia akan mendatangi TPU dan menghabiskan waktu sorenya di sana. Merokok, memandangi awan gemawan sore hari. Soal merokok, dia berpendapat, merokok di kompleks pekuburan tidak melanggar undang-undang yang belum lama ini diterapkan oleh Pemerintah DKI. Karena merokok di pekuburan tak menggangu ketertiban umum. Orang-orang yang sudah mati tidak akan merasa terganggu kenyamanannya. Itu pendapat Jumari.
***
"Lagi cari solusi, Pak Jumari?" sapa Pak Kimung lagi. Yang disapa cuma mengangguk, tersenyum lalu melambaikan tangan. Jumari terbayang kejadian beberapa hari belakangan tentang keempat anaknya dari ketiga istrinya.
"Pak, Rio minta ganti tas sekolahnya tuh. Katanya sih kancingnya dol," kata Kim, istri kedua Jumari.
"Ya. Tapi belum bisa besok, mungkin lusa," jawab Jumari sambil melipat koran yang dibacanya.
Kim menghampiri Jumari lalu mencium kepala suaminya itu. Jumari merasakan kasih sayang istri keduanya itu begitu tulus.
Esoknya di rumah istri pertama, hati Jumari agak dikejutkan oleh sapaan Ren si Istri pertamanya, "Mas, Sea badannya panas. Sekolah saja tadi pulang setengah hari."
Jumari bergegas ke kamar Sea, anak pertama dari istri pertamanya. Jumari mendapatkan Sea tengah terbaring di pembaringan terbalut selimut. Jumari memegang kening anaknya yang sedang menanjak remaja itu.
"Cepat Jeng, gantikan bajunya. Aku mau bawa Sea ke dokter!"
Sea dibangunkan oleh sang Ibu, disodorkan baju yang bersih untuk salin. Sea, meski agak pusing kepalanya, tetap menuruti perintah kedua orangtuanya. Lalu Jumari membawanya pergi ke dokter malam itu juga. Setelah diperiksa oleh dokter jaga duapuluh empat jam, ternyata Sea cuma demam biasa.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," kata dokter itu.
Jumari kembali tenang. Semoga Mia, Dea, anak-anakku lainnya dalam keadaan sehat! renung Jumari dalam kepulan asap rokok yang kesekian.
"Lagi cari solusi, Pak Jumari!" sapaan Pak Kimung sambil lalu di atas sepeda pancalnya itulah yang membuat Jumari terjaga dari lamunannya di kompleks pemakaman itu.
***
Dalam lamunannya yang lain, Jumari sedikit heran, Tuhan kok begitu baik kepadanya. Dia dikasih kepercayaan untuk menjadi seorang suami bagi ketiga perempuan yang berbeda usia itu. Ketiga istrinya pun akur-akur saja walau hanya setahun sekali berkumpul di saat hari Lebaran saja. Mereka berkumpul di rumah Ren, istri tertua Jumari. Dea, anak dari istri termudanya, Mona, sering menginap di rumah istri tertuanya. Dea yang baru berumur tiga tahun, sangat disukai oleh Sea dan Mia, anak dari Ren, istri tertuanya. Dea yang imut, di mata mereka sangat lucu karena tidak cengeng dan paling cantik di antara anak-anak perempuan Jumari yang lainnya. Yang aneh adalah Rio, anak dari istri keduanya. Rio kalau sudah kumpul dengan saudara-saudaranya dari lain ibu, lebih banyak diam, tidak agresif. Tidak seperti Dea yang mau membaur dengan siapa saja. Tetapi pada umumnya mereka saling sayang menyayangi.
Di kantor Jumari, ada yang tahu kalau dirinya punya istri tiga namun akur semua. Namanya Pak Rudi.
Dia sering nyeletuk, "Kasih tahu dong resepnya. Kok bisa sampai akur begitu?"
Jumari hanya tersenyum. Lalu jawaban yang keluar dari mulutnya cukup sekata, "Ibadah."
Senja mulai merangkak. Rokok terakhir sudah dia matikan. Jumari bangkit terus berjalan mendekati motornya yang diparkir di dekat pos penjagaan.
'Sedang apa kamu Dea, sayang?' batin Jumari menyapa. 'Papa akan bawakan kamu donat. Tunggu Papa ya,' bisik hatinya lagi.
Di perjalanan, Jumari menghentikan motornya tepat di depan toko kue. Lalu masuk dan memesan donat kesukaan Dea. Dan, Dea sudah tahu saja suara motor yang berhenti di depan rumahnya adalah motor ayahnya yang hari itu adalah waktu pulang ke rumah Mona, istri ketiganya, istri yang termuda dari istri pertama dan keduanya. Mona dan Dea yang sedang menonton film kartun di televisi, bergegas membuka pintu rumahnya. Sebuah etika keluarga, Dea mencium tangan ayahnya, disusul Mona yang mencium tangan suaminya.
"Papa sehat?" sapa Mona sambil mengiringi Jumari masuk ke dalam rumah.
Jumari mengangguk lalu mengangkat Dea ke atas pangkuannya. "Papa bawa donat kesukaanmu, Sayang. Tuh di dalam tas!"
Mona, atas izin Jumari mengeluarkan bungkusan dari dalam tas suaminya, lantas diberikan kepada anaknya. Dea senang sekali, lalu turun dari pangkuan ayahnya. Dia membongkar bungkusan donat di atas meja. Jumari meneguk air yang disediakan Mona. Kemudian sang istri berjongkok membuka tali sepatu suaminya.
***
Suatu hari, kepanikan terjadi pada tiga keluarga satu ayah itu. Dea hilang diculik. Mona, ibu Dea, menelepon ke Ren, istri pertama suaminya untuk memberitahukan kalau Dea tidak ada di rumahnya.
"Mungkin di rumah, Mbak?" tanya Mona.
Ren terkejut. "Tidak ada, Dik! Coba telepon ke rumah Kim, siapa tahu Dea dibawa ayahnya ke sana," usul Ren.
"Baik Mbak, terima kasih," balas Mona di telepon.
Tanpa menunggu lama akhirnya Mona langsung telepon ke rumah Kim untuk menanyakan hal yang sama tentang keberadaan Dea. Tetapi Dea tidak ada di rumah Kim. Rio, anak Kim yang baru duduk di kelas dua sekolah dasar turut sedih mendengar Dea hilang. "Kita cari yuk, Ma," ajak Rio.
"Kemana mencarinya, Rio? Di rumah saudara-saudaramu tak ada," tanggap ibunya.
Akhirnya Mona menyampaikan ihwal hilangnya Dea kepada suaminya. Jumari terkejut bukan main, kemudian dia langsung lapor ke kantor polisi tentang hilangnya Dea dengan ciri-ciri lengkap.
Sebuah kemujuran, tiga hari kemudian, Kim melihat Dea sedang dituntun oleh seorang perempuan setengah baya di perempatan jalan. Mereka baru saja turun dari angkot. Kim langsung berlari menghampiri salah seorang polisi yang kebetulan sedang bertugas di persimpangan jalan yang cukup ramai itu, untuk memberitahukan kalau anak yang sedang dibawa oleh perempuan yang baru turun dari angkot itu adalah anaknya yang hilang, tiga hari lalu. Sang polisi sertamerta mengejar perempuan yang dilaporkan Kim untuk ditangkap. Perempuan itu terkejut dan meronta saat tangannya dipegang polisi.
"Maaf, Ibu dilaporkan telah membawa kabur anak orang. Ibu anak ini sedang mencarinya, itu Ibunya!" kata polisi menunjuk pada Kim yang berlari mendekat.
"Dia bukan ibu anak ini. Saya tahu, Pak. Anak ini anak saya!" bantah si Penculik. Dea melihat Kim, lalu tersenyum karena mengenalnya.
"Apakah benar ini anak Ibu?" Polisi yang mulai bingung itu balik tanya kepada Kim.
"Dea ini anak saya, Pak Polisi. Kalau begitu tahan dulu perempuan itu, saya telepon ayah anak ini, biar jelas," kata Kim langsung menghubungkan Jumari lewat ponselnya. Terjadi percakapan singkat. Lalu Kim menutup ponselnya. "Sebentar, suami saya akan datang, Pak," kata Kim menjelaskan sambil memasukkan ponsel ke dalam tas cangkingnya
Sambil tetap menahan perempuan setengah baya itu, polisi menyempatkan bertanya pada Dea yang kini ada di tangan Kim.
"Nama kamu Dea, kan?"
Dea mengangguk.
"Benar, Ibu ini, Mama Dea?" tanya polisi lagi kepada Dea.
"Ibu ini Mamanya Rio, Mama Dea juga," jawab Dea polos.
Polisi nyaris tertawa. Saat bersamaan Jumari datang dengan menyewa taksi. Perempuan setengah baya itu terkejut melihat Jumari muncul sesaat sebelum ia berkilah mengurai dusta. Mereka ternyata sudah saling kenal. Jumari langsung membopong Dea.
"Mbok Tun, kok ada di sini?" tanya Jumari terheran-heran.
Yang ditanya tidak menyahut.
"Dia yang menculik Dea, Mas!" sahut Kim spontan.
Orang-orang mulai berkerumun sekadar ingin melihat.
"Pak Polisi, perempuan ini dulu pernah jadi tetangga saya. Berarti sudah tiga kali dia menculik anak tetangganya sendiri, termasuk anak saya sekarang ini, Pak. Tangkap dia, Pak. Pasti anak saya mau dijual!"
Akhirnya setelah polisi mendapat kejelasan, perempuan setengah baya itu dibawa ke kantor polisi. Sedang Jumari hari itu juga membawa pulang Dea ke rumah istri ketiganya dan memberitahukan kalau Kim, madu keduanya yang menemukan Dea. Mona langsung menelepon Kim melalui ponselnya.
"Kak, terima kasih, ya. Tidak tahu bagaimana jadinya kalau seandainya tidak ada Kakak di situ," kata Mona terharu.
"Sama-sama, Mona. Anakmu adalah anakku juga," balas Kim dari seberang.
Cukup singkat percakapan kedua perempuan yang bersuamikan satu lelaki itu. Singkat namun cukup mengandung pengertian dan tali persaudaraan.
Sore itu, sepulang dari kerja, Jumari kembali mendatangi TPU dan menghabiskan waktu sorenya di sana. Duduk di bawah pohon kemboja. Merokok, memandangi awan gemawan, berpikir, dan merenung tentang kehidupan dalam rumah tangganya. Meneropong ke masa depan, melihat kejadian-kejadian yang baru lalu. Sampai Pak Kimung kembali lewat dengan sepeda pancalnya, dan masih sama seperti pada sore-sore sebelumnya, penjaga kuburan itu menyapa dengan sapaan khasnya.
"Lagi mencari solusi, Pak Jumari?" ©